Posts Tagged ‘sejarah depok’

Depok: Sebuah Catatan Sejarah

Desember 31, 2008

Sejarah Awal

Walau lebih dikenal sebagai satelitnya Jakarta, ternyata Depok memiliki sejarah panjang. Bahkan Depok juga memiliki banyak peninggalan arkeologi dari masa prasejarah. Arkeolog UI Hasan Djafar (2005) membagi peninggalan prasejarah Depok menjadi dua masa: bercocok tanam dan perundagian.

Persebaran wilayah masa bercocok tanam terdapat di sekitar Kelapa Dua, Srengseng Sawah, Cisalak, Parungbingung, Sawangan, Cilebut, Citayam, Cibinong, Citeureup, dan Parung. Pada masa ini ditemukan artefak berupa alat bati neolitik dan gerabah. Sedangkan persebaran pada masa perundagian berada di sekitar wilayah Utara: Cibarusa, Srengseng, Lenteng Agung, bahkan hingga ke Pejaten. Pada masa ini ditemukan bukti artefak seperti kapak perunggu, tombak besi, dan arca perunggu.

Pada masa Hindu-Buddha, belum ada bukti sejarah yang menuliskan tentang “Depok” sebagai suatu kota atau pemukiman. Hanya ada beberapa nama tempat kuno yang disebut dalam sumber-sumber tertulis, yang hingga kini masih berada di sekitar Depok. Bujangga Manik, karya sastra Sunda Kuna dari abad ke-16, menyebutkan nama-nama seperti Cibinong, Tandangan, Citereup, Cileungsi, Bukit Caru, Gunung Gajah, dan Ciluwer. Sedangkan Sungai Ciliwung disebutkan dengan nama Ci-Haliwung (Djafar: 2005).

Selain itu, juga ditemukan sumur-sumur yang diduga telah lama ada sejak masa Hindu-Buddha. Sumur tersebut, antara lain adalah Sumur Gondang di Harjamukti, Cimanggis; Sumur Tujuh Beringin Kurung di Beji Depok Utara; Sumur Pancuran Mas di Pancoran Mas; dan Sumur Bandung di Cipayung, Pancuran Mas. Sumur-sumur tersebut masih sering digunakan dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat

Kalahnya Kerajaan Sunda oleh pasukan Islam tahun 1579, menjadi awal masuk dan berkembangnya Islam di Depok. Hubungan Banten dan Cirebon melalui jalan darat yang dulu terhambat oleh Kerajaan Sunda, tidak lagi menjadi penghalang. Hingga wilayah sekitar Depok pun sering dilalui oleh pedagang dan utusan dari Banten maupun Cirebon.

Kemudian, muncul kampung-kampung yang namanya khas dengan nama-nama lokasi di daerah kekuasaan Islam (khususnya Banten). Nama kampung-kampung tersebut antara lain Beji, Kukusan, Kemiri, dan Pejaten. Pada masa ini, pergerakkan dan pendidikan berpusat di Sumur Tujuh dan daerah sekitarnya. Terdapat pula pesantren yang dikenal sebagai Padepokan Uyut Beji.

‘Berkembang’ Karena Tuan Tanah

Sebagai sebuah permukiman, dapat dikatakan Depok berkembang karena peran seorang tuan tanah bernama Cornelis Chastelein. Sebagai seorang pekerja keras, usaha Chastelein muda membuahkan hasil ketika dia sukses di bidang pertanian. Chastelein kemudian membeli ‘sebidang’ tanah di selatan Batavia, di Depok.

Untuk mengerjakan lahan yang baru dibuka itu, Chastelein dibantu para pekerja yang didatangkan dari Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Betawi. Tentu saja sebagai tuan tanah partikelir Chastelein berhak mengelola tanahnya, juga membuat kebijakan tanpa campur tangan orang luar. Chastelein kemudian membentuk gementee (“pemerintahan”), dengan para pekerjanya sebagai penduduk. Rumah sakit Harapan, sekarang di jalan Pemuda, adalah gedung “pemerintahan”-nya.

Denys Lombard (2000) menyebut peran Cornelis Chastelein memiliki kekhasan tersendiri dalam membentuk suatu komunitas pada masa kolonial di Jawa. Chastelein membentuk sebuah komunitas Kristen pertama di Jawa, di luar komunitas perkotaan Belanda (Lombard, 2000: 96).

Chastelein juga memiliki cita-cita membentuk suatu perhimpunan Kristen di kalangan pengikutnya. Oleh masyarakat, pengikut Chastelein ini disebut sebagai Orang Asli atau lebih dikenal sebagai “Belanda Depok”. Setelah Chastelein wafat, para pewaris membentuk pemerintahannya sendiri, mereka juga meneruskan cita-cita Chastelein dengan mendirikan sebuah seminari. Seminari ini menjadi sekolah penginjilan pertama di Nusantara yang berskala nasional. Kemudian seminari ini berkembang menjadi Sekolah Theologia Indonesia. (Rian Timadar)

Artikel Terkait:

Perdebatan Sebuah Nama

Iklan