Archive for the 'peristiwa' Category

Palestina Jadi Anggota, UNESCO Jauhkan Politik Dalam Urusan Edukasi dan Budaya

Oktober 31, 2011

withfriendship.com

Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan atau UN Educational, Scientific, and Cultural Oganization (UNESCO) memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina. Dengan keanggotaan di UNESCO, maka Palestina bisa mengajukan sejumlah peninggalan sejarahnya dalam daftar World Heritage yang dikeluarkan UNESCO.

Selama ini, memang banyak peninggalan bersejarah di wilayah Israel dan Palestina, yang memang tempat bersejarah penting bagi tiga agama besar dunia: Kristen, Islam, dan Yahudi.

Tapi, saat ini UNESCO baru memasukkan peninggalan bersejarah yang ada di wilayah Israel dalam World Heritage. Berdasarkan situs UNESCO, ada enam World Heritage yang berasal dari Israel.

Enam peninggalan bersejarah yang masuk World Heritage adalah Masada yang merupakan istana peninggalan Raja Herod; kota tua Acre; kota tua White City di Tel Aviv; reruntuhan Biblical Tels yang meliputi Magiddo, Hazor, dan Beer Sheba; Rute Perdagangan Tua di Negev; dan Tempat Suci Baha’i di Haifa.

Sebenarnya, di wilayah Palestina juga banyak peninggalan World Heritage, yang bahkan menjadi simbol bagi agama Nasrani, Islam, dan Yahudi.

Misalnya, Gereja Kelahiran atau Church of the Nativity. Tempat ini diyakini sebagai lokasi lahirnya Yesus Kristus. Pemerintah Palestina pun berusaha memasukkan gereja ini ke dalam World Heritage UNESCO.

“Gereja Kelahiran memang merupakan gereja tertua yang kita tahu,” kata Lousa Haxthausen, perwakilan UNESCO di Tepi Barat, seperti dikutip dari Reuters. Saat itu, Haxthausen menanggapi Palestina yang mengajukan Gereja Kelahiran sebagai World Heritage UNESCO, pada Februari silam.

Selain itu, terdapat juga Masjid Al Aqsa, yang merupakan peninggalan penting bagi umat Islam. Al Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam, sebelum Muhammad mendapat perintah Tuhan untuk memindahkan kiblat ke Kabah di Arab Saudi.

Sedangkan peninggalan Yahudi penting yang ada di wilayah Palestina adalah Tembok Ratapan. Lokasi ini merupakan tempat suci bagi umat Yahudi selama berabad-abad.

Baik Gereja Kelahiran, Masjid Al Aqsa, juga Tembok Ratapan, terletak di kota Yerusalem. Tembok Ratapan dan Masjid Al Aqsa bahkan berada di satu lokasi, yaitu Kota Tua Yerusalem.

Seperti dikutip dari situs UNESCO, Jordania pernah mengajukan Kota Tua Yerusalem dalam daftar World Heritage in Danger, atau peninggalan sejarah yang terancam. Namun, permintaan Jordania yang mengajukan ini tahun 2011 belum disetujui UNESCO.

“UNESCO melanjutkan kerjanya untuk menghormati nilai universal dari peninggalan (heritage) yang ada di Kota Tua Yerusalem,” tulis UNESCO dalam alasannya.

“Tapi sesuai resolusi PBB, Yerusalem Timur merupakan bagian dari wilayah Palestina, dan status Yerusalem harus diselesaikan untuk status permanen (masuk daftar UNESCO),” lanjut UNESCO.

Palestina memang belum resmi masuk dalam keanggotaan PBB. Namun, UNESCO telah menerima keanggotaan penuh Palestina. Belum diketahui apakah ini berarti UNESCO bisa melakukan langkah konkret terhadap peninggalan sejarah penting yang ada di Palestina. Bila dilihat dari sudut pandang ini, sepertinya alasan perlindungan heritage, dan bukan politik, yang menjadikan UNESCO menerima keanggotaan penuh Palestina.

Ini menarik. Dengan keanggotaan penuh Palestina, UNESCO seakan memperlihatkan bahwa edukasi, sosial, dan budaya, tiga hal yang menjadi perhatian UNESCO, seharusnya memiliki nilai universal. Edukasi, sosial, dan budaya, memang seharusnya dijauhkan dari persoalan politik.

Tabik untuk UNESCO.. (Bayu Galih, Oktober 2011)

Iklan

Danau Toba: Akibat Erupsi Terbesar?

Januari 6, 2011

Danau Toba (medantalk.com)

Selama ini Danau Toba dikenal sebagai sebuah kawasan wisata yang indah di Sumatera Utara. Namun, tidak banyak yang tahu kalau Danau Toba merupakan danau volkanik terbesar di dunia. Danau yang diduga terjadi akibat erupsi pada 69.000 – 77.000 tahun yang lalu.

Danau Toba yang kita kenal sekarang  tadinya adalah sebuah gunung yang termasuk dalam kategori super volcano. Untuk meraih ‘gelar’ ini, sebuah gunung haruslah mampu menghasilkan erupsi dengan ejecta (partikel yang keluar dari lubang vulkanis) lebih besar dari 1000 kilometer kubik.

Sejumlah ahli mengkategorikan enam gunung termasuk  dalam super volcano. Selain Toba, mereka adalah Yellowstone Caldera, Long Valley Caldera, dan Valles Caldera di AS, Taupo Volcano di Selandia Baru, dan Aira Caldera di Jepang.

Erupsi Gunung Toba adalah yang terbesar dalam dua juta tahun terakhir. Menurut beberapa teori, erupsi ini bahkan hampir menyapu habis nenek moyang manusia.

Tiga erupsi utama terjadi dalam satu juta tahun terakhir. Letusan pertama berlangsung sekitar 840 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Erupsi  kedua dengan kekuatan lebih kecil terjadi sekitar 500 ribu tahun lalu dan membentuk kaldera di utara Danau Toba. Letusan ketigalah yang paling dashyat. Terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera yang kini kita kenal sebagai Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Diperkirakan volume magma yang dihasilkan sekitar 2000-3000 kilometer kubik. Material yang keluar kemungkinan mengalir ke timur lewat Selat Malaka dan ke barat lewat Samudera Hindia. Beberapa ahli kelautan melaporkan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba ditemukan di Malaysia dan India Tengah.

Dampak paling besar dari erupsi ini adalah perubahan iklim global. Abu vulkanik yang dihasilkan mampu mencapai stratosfer.

Tak ada bukti langsung yang bisa menunjukkan hebatnya pendinginan global yang disebabkan letusan Toba. Walau beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa volcanic winter (penurunan temperatur akibat abu vulkanik dan lubang asam yang berperan dalam mengaburkan matahari), yang dikombinasikan dengan efek jatuhnya abu, bisa jadi membawa manusia ke ambang kepunahan.

Stanley Ambrose dari Universitas Illinois meyakini letusan 74.000 tahun yang lalu itu mengguncangkan dunia Paleolitik Tengah dan mengurangi populasi global hingga sekitar 15.000 individu.

Peneliti dari Universitas Cambridge menemukan alat batu di bawah lapisan tebal abu Toba di situs Jwalapuram, India Selatan. Alat-alat yang ditemukan dari masing-masing layer sungguh menunjukkan kemiripan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa letusan besar Toba tidak menyapu habis populasi manusia dari masa pengguna alat tersebut. Melainkan, setelahnya tercipta fase pendingingan global dimana dunia mengalami musim dingin selama enam tahun yang diikuti dengan peristiwa glasial.

Hanya manusia modern sajalah yang sanggup bertahan melewatinya. Namun seberapa besarpun kehancuran yang dibawa peristiwa tersebut. Letusan Gunung Toba kuno membuat kita dapat menyaksikan Tao Toba nauli (Danau Toba yang indah) dengan orang-orang Toba yang mengembangkan kebudayaan unik mereka di wilayah sekitarnya.

Rusuh Koja: Akibat Tanpa Pendekatan Budaya

April 19, 2010

Rusuh Koja (okezone.com)

Pagi itu, 14 April 2010, 1.750 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) siaga sejak dini hari di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka bersiap ‘menertibkan’ komplek makam Habib Hassan bin Muhammad al Haddad, yang lebih sohor dengan sebutan Mbah Priok.

Tapi, ratusan massa juga berjaga-jaga di dalam kompleks makam Mbah Priok. Sebagian dari mereka merupakan jamaah ta’lim pondokan yang ada di dalam komplek makam. Sebagian lagi warga Tanjung Priok. Mereka mengaku bersiap mempertahankan makam yang mereka anggap sebagai situs bersejarah, bahkan dianggap sebagai “paku bumi” wilayah Tanjung Priok.

Seumur-umur, mungkin ini kali pertama ada suatu pembelaan mati-matian terhadap suatu situs yang dianggap bersejarah. Biasanya, situs atau benda cagar budaya selalu kalah oleh kepentingan pemodal. Sayangnya, pembelaan itu bermuara timbulnya korban jiwa.

Bisa jadi, Rusuh Koja bermula akibat sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Jakarta Utara, yang tidak melakukan pendekatan budaya dalam ‘menertibkan’ kompleks makam. Janji Pemerintah yang tidak akan menggusur makam Mbah Priok dianggap santri dan warga sebagai angin lalu.

Apa pasal? Pertama, kedatangan ribuan Satpol PP dengan alat berat, membuat massa sulit percaya makam tidak akan dibongkar. Kedua, dan ini yang terpenting, ‘penertiban’ komplek makam akan menghilangkan fungsi budaya makam bagi masyarakat, yaitu budaya ziarah kubur.

Menurut ahli waris Mbah Priok, Habib Alwi al Haddad, ini yang tidak banyak diketahui masyarakat. Makam memang tidak akan dibongkar, tapi Pelindo (sebagai pihak yang mengklaim lahan Mbah Priok) membuat tiga syarat yang mematikan fungsi makam.

Pertama, ziarah hanya boleh dilakukan setahun sekali. Kedua, peziarah tidak boleh lebih dari sepuluh orang. Ketiga, ziarah harus lapor seminggu sebelumnya ke Pelindo.

Tiga syarat itulah yang membuat ahli waris dan jamaah Mbah Priok meradang. “Dzalim ini, kalau monumen, bagaimana orang mau ziarah? Siapa yang ziarah setahun sekali. Memang makam ini patung pahlawan?” kata Habib Alwi, seperti dikutip dari VIVanews.com.

Sebagai sebuah lokasi bersejarah, kompleks makam seharusnya dalam konservasinya dimaknai sebagai living monument, atau cagar budaya yang masih memiliki aktivitas hidup. Tempat ini jelas masih memiliki fungsi sosial-budaya, dengan adanya aktivitas ziarah kubur. Selain itu, rasa kepemilikan masyarakat (sense of belonging) terhadap kompleks makam juga masih ada.

Pertanyaan lain, mengapa Pemerintah tidak menjadikan kompleks makam Habib Hassan al Haddad sebagai situs cagar budaya? Padahal keberadaan makam ini didukung sumber historis (link sejarah makam: http://bit.ly/cHsP5j), bahkan secara sosiologis memiliki ahli waris, yang bisa jadi memperkuat data historis makam.

Mungkin, sengketa lahan yang berkepanjangan menjadi alasan keengganan pihak berkepentingan untuk menjadikan makam ini sebagai situs cagar budaya. Apalagi sengketa lahan itu juga melibatkan kekuasaan, dalam konteks ini adalah sengketa ahli waris dengan penguasa di masa Orde Baru.

Setelah timbul korban jiwa, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo akhirnya memutuskan bahwa makam Mbah Priok merupakan cagar budaya. Sayangnya, keputusan yang dibuat dengan mengorbankan sejumlah nyawa, puluhan kendaraan yang dibakar, dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pemerintah. Semua akibat Rusuh Koja, Rabu kelabu itu. (bayu galih)

Menelusuri Awal Penjajahan di Indonesia: Pendekatan “Legal-Method Intention”

April 5, 2010

helmink.com

Apa itu “Penjajahan”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ed.III Depdiknas Balai Pustaka hal.51 tahun 2005 “Penjajahan” mengandung arti:

1. jajah: menjajah berarti keluar-masuk suatu daerah (negeri, dsb)
2. menguasai dan memerintah suatu negeri. Belanda menjajah kita lebih kurang 350 tahun lamanya.

Sedangkan menurut The World Book of Encyclopedia vol.14/92 hlm. 384 adalah :

“Occupancy is a legal-method by which a person or nation acquires title to something that no-one else own”

To gain title to a thing by occupancy a person or nation must take possession of the thing with the intention of keeping it.

Maka pertanyaan yang muncul adalah:

Apa yang dimaksud dengan “legal-method intention“? Kapan hal tersebut mulai tercatat dalam sejarah Indonesia? Benarkah Indonesia dijajah sejak 350 tahun yang lalu?

Tidak diragukan, bahwa sejak proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 2010 ini, maka Indonesia telah merdeka selama 64 tahun lebih beberapa bulan. Tetapi jika kita berbicara tentang kapan awal terjadinya “praktek” penjajahan di negeri kita maka akan ada beberapa data sejarah yang menarik untuk ditelisik.

KBBI (juga beberapa buku pedoman sejarah di sekolah) memberikan kisaran angka 350 tahun atau 3,5 abad sebagai masa berlangsungnya “praktek” penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dari mana asumsi tersebut berasal? Jika kita tarik mundur,angka yang berkaitan dengan 350 tahun adalah dimulai dari tahun 1595 atau abad ke 16 (Hitung: 1945 ke 1595 = 350).

Mengapa 1595? Tahun 1595 adalah masa ketika Cornelis de Houtman bertolak dari Belanda menuju Indonesia dan tiba di Banten kurang lebih setahun setelahnya. Menurut M.C Ricklefs, pada bulan Juni 1596 Kapal-kapal De Houtman tiba di Banten di situ orang-orang Belanda  langsung terlibat konflik, baik dengan orang-orang Portugis, maupun dengan orang-orang pribumi.

Disebutkan pula De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabakan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya. Tahun 1597 sisa-sisa ekspedisi itu kembali ke Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah. Mulailah kemudian dikenal sebagai zaman pelayaran ‘liar’ atau tidak ‘teratur’ (wilde vaart) yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusaan ekspedisi belanda yang saling bersaing dan memiliki keinginan kuat (intention) terhadap rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Pada bulan Maret 1602, Perseroan yang saling bersaing tersebut membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur (VOC). Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem majelis (kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memilki sejumlah direktur yang semuanya berjumlah 17 orang yang disebut dengan Heeren XVII.

Ricklefs menambahkan bahwa personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda tetapi sebagian personelnya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelak dari seluruh Eropa-lah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidak berdayaan, ketidakjujuran, nepotisme dan alkoholisme tersebar luas di kalanagn VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikkan.

Berdasarkan ‘pengorganisasianya’ maka kita dapat menyebut 1602 sebagai awal dari “legal-method intention“. Mengapa? karena VOC mempunyai struktur/rancangan/metode yang secara legal diberikan oleh Parlemen Belanda yang salah satunya dikenal dengan hak Octroii sebagai cara untuk ‘menguasai’ Indonesia. Melalui hak tersebut, kongsi dagang yang diberi semacam hak ‘tatanegara’ dari pemerintah Belanda untuk mengatur pemerintahan di Indonesia.

Hak octroii terkenal dengan undang-undang yang merugikan rakyat; diantaranya melakukan monopoli, melakukan peperangan, membangun benteng-benteng, mengadakan perjanjian-perjanjian dan kewajiban contingenten; yaitu rakyat dipaksa menanam komoditas yang laku di pasar dunia.

Kewajiban inilah yang kemudian memancing kemarahan rakyat sehingga terjadi berbagai perlawanan. Perlawanan-perlawanan tersebut semakin memperjelas bahwa ‘praktek’ (baca: penjajahan) telah terjadi karena mereka bersinggungan dengan rakyat sebagai landowners.

Sehingga, asumsi bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, secara de-jure,  sudah mulai terjadi pada tahun 1595. Namun secara de-facto, “legal-method intention” terjadi pada tahun 1602.

Namun, tentu saja definisi ini merupakan pendekatan untuk mengetahui awal penjajahan Belanda di Indonesia. Karena sebagian ahli sejarah tetap berpendapat, Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Karena hingga awal abad 20 pun masih tetap terjadi perlawanan.

Seperti misalnya yang terjadi di Bali. Setelah peristiwa Puputan Klungkung dan “menyerahnya” Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, baru pada 2 Oktober 1908, Bali dapat seluruhnya dikuasai Belanda. Hal yang sama terjadi di Aceh, dikabarkan Belanda baru dapat menguasai Aceh pada tahun 1908. (Rusyanti)