Archive for the 'Opini' Category

Palestina Jadi Anggota, UNESCO Jauhkan Politik Dalam Urusan Edukasi dan Budaya

Oktober 31, 2011

withfriendship.com

Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan atau UN Educational, Scientific, and Cultural Oganization (UNESCO) memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina. Dengan keanggotaan di UNESCO, maka Palestina bisa mengajukan sejumlah peninggalan sejarahnya dalam daftar World Heritage yang dikeluarkan UNESCO.

Selama ini, memang banyak peninggalan bersejarah di wilayah Israel dan Palestina, yang memang tempat bersejarah penting bagi tiga agama besar dunia: Kristen, Islam, dan Yahudi.

Tapi, saat ini UNESCO baru memasukkan peninggalan bersejarah yang ada di wilayah Israel dalam World Heritage. Berdasarkan situs UNESCO, ada enam World Heritage yang berasal dari Israel.

Enam peninggalan bersejarah yang masuk World Heritage adalah Masada yang merupakan istana peninggalan Raja Herod; kota tua Acre; kota tua White City di Tel Aviv; reruntuhan Biblical Tels yang meliputi Magiddo, Hazor, dan Beer Sheba; Rute Perdagangan Tua di Negev; dan Tempat Suci Baha’i di Haifa.

Sebenarnya, di wilayah Palestina juga banyak peninggalan World Heritage, yang bahkan menjadi simbol bagi agama Nasrani, Islam, dan Yahudi.

Misalnya, Gereja Kelahiran atau Church of the Nativity. Tempat ini diyakini sebagai lokasi lahirnya Yesus Kristus. Pemerintah Palestina pun berusaha memasukkan gereja ini ke dalam World Heritage UNESCO.

“Gereja Kelahiran memang merupakan gereja tertua yang kita tahu,” kata Lousa Haxthausen, perwakilan UNESCO di Tepi Barat, seperti dikutip dari Reuters. Saat itu, Haxthausen menanggapi Palestina yang mengajukan Gereja Kelahiran sebagai World Heritage UNESCO, pada Februari silam.

Selain itu, terdapat juga Masjid Al Aqsa, yang merupakan peninggalan penting bagi umat Islam. Al Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam, sebelum Muhammad mendapat perintah Tuhan untuk memindahkan kiblat ke Kabah di Arab Saudi.

Sedangkan peninggalan Yahudi penting yang ada di wilayah Palestina adalah Tembok Ratapan. Lokasi ini merupakan tempat suci bagi umat Yahudi selama berabad-abad.

Baik Gereja Kelahiran, Masjid Al Aqsa, juga Tembok Ratapan, terletak di kota Yerusalem. Tembok Ratapan dan Masjid Al Aqsa bahkan berada di satu lokasi, yaitu Kota Tua Yerusalem.

Seperti dikutip dari situs UNESCO, Jordania pernah mengajukan Kota Tua Yerusalem dalam daftar World Heritage in Danger, atau peninggalan sejarah yang terancam. Namun, permintaan Jordania yang mengajukan ini tahun 2011 belum disetujui UNESCO.

“UNESCO melanjutkan kerjanya untuk menghormati nilai universal dari peninggalan (heritage) yang ada di Kota Tua Yerusalem,” tulis UNESCO dalam alasannya.

“Tapi sesuai resolusi PBB, Yerusalem Timur merupakan bagian dari wilayah Palestina, dan status Yerusalem harus diselesaikan untuk status permanen (masuk daftar UNESCO),” lanjut UNESCO.

Palestina memang belum resmi masuk dalam keanggotaan PBB. Namun, UNESCO telah menerima keanggotaan penuh Palestina. Belum diketahui apakah ini berarti UNESCO bisa melakukan langkah konkret terhadap peninggalan sejarah penting yang ada di Palestina. Bila dilihat dari sudut pandang ini, sepertinya alasan perlindungan heritage, dan bukan politik, yang menjadikan UNESCO menerima keanggotaan penuh Palestina.

Ini menarik. Dengan keanggotaan penuh Palestina, UNESCO seakan memperlihatkan bahwa edukasi, sosial, dan budaya, tiga hal yang menjadi perhatian UNESCO, seharusnya memiliki nilai universal. Edukasi, sosial, dan budaya, memang seharusnya dijauhkan dari persoalan politik.

Tabik untuk UNESCO.. (Bayu Galih, Oktober 2011)

Rusuh Koja: Akibat Tanpa Pendekatan Budaya

April 19, 2010

Rusuh Koja (okezone.com)

Pagi itu, 14 April 2010, 1.750 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) siaga sejak dini hari di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka bersiap ‘menertibkan’ komplek makam Habib Hassan bin Muhammad al Haddad, yang lebih sohor dengan sebutan Mbah Priok.

Tapi, ratusan massa juga berjaga-jaga di dalam kompleks makam Mbah Priok. Sebagian dari mereka merupakan jamaah ta’lim pondokan yang ada di dalam komplek makam. Sebagian lagi warga Tanjung Priok. Mereka mengaku bersiap mempertahankan makam yang mereka anggap sebagai situs bersejarah, bahkan dianggap sebagai “paku bumi” wilayah Tanjung Priok.

Seumur-umur, mungkin ini kali pertama ada suatu pembelaan mati-matian terhadap suatu situs yang dianggap bersejarah. Biasanya, situs atau benda cagar budaya selalu kalah oleh kepentingan pemodal. Sayangnya, pembelaan itu bermuara timbulnya korban jiwa.

Bisa jadi, Rusuh Koja bermula akibat sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Jakarta Utara, yang tidak melakukan pendekatan budaya dalam ‘menertibkan’ kompleks makam. Janji Pemerintah yang tidak akan menggusur makam Mbah Priok dianggap santri dan warga sebagai angin lalu.

Apa pasal? Pertama, kedatangan ribuan Satpol PP dengan alat berat, membuat massa sulit percaya makam tidak akan dibongkar. Kedua, dan ini yang terpenting, ‘penertiban’ komplek makam akan menghilangkan fungsi budaya makam bagi masyarakat, yaitu budaya ziarah kubur.

Menurut ahli waris Mbah Priok, Habib Alwi al Haddad, ini yang tidak banyak diketahui masyarakat. Makam memang tidak akan dibongkar, tapi Pelindo (sebagai pihak yang mengklaim lahan Mbah Priok) membuat tiga syarat yang mematikan fungsi makam.

Pertama, ziarah hanya boleh dilakukan setahun sekali. Kedua, peziarah tidak boleh lebih dari sepuluh orang. Ketiga, ziarah harus lapor seminggu sebelumnya ke Pelindo.

Tiga syarat itulah yang membuat ahli waris dan jamaah Mbah Priok meradang. “Dzalim ini, kalau monumen, bagaimana orang mau ziarah? Siapa yang ziarah setahun sekali. Memang makam ini patung pahlawan?” kata Habib Alwi, seperti dikutip dari VIVanews.com.

Sebagai sebuah lokasi bersejarah, kompleks makam seharusnya dalam konservasinya dimaknai sebagai living monument, atau cagar budaya yang masih memiliki aktivitas hidup. Tempat ini jelas masih memiliki fungsi sosial-budaya, dengan adanya aktivitas ziarah kubur. Selain itu, rasa kepemilikan masyarakat (sense of belonging) terhadap kompleks makam juga masih ada.

Pertanyaan lain, mengapa Pemerintah tidak menjadikan kompleks makam Habib Hassan al Haddad sebagai situs cagar budaya? Padahal keberadaan makam ini didukung sumber historis (link sejarah makam: http://bit.ly/cHsP5j), bahkan secara sosiologis memiliki ahli waris, yang bisa jadi memperkuat data historis makam.

Mungkin, sengketa lahan yang berkepanjangan menjadi alasan keengganan pihak berkepentingan untuk menjadikan makam ini sebagai situs cagar budaya. Apalagi sengketa lahan itu juga melibatkan kekuasaan, dalam konteks ini adalah sengketa ahli waris dengan penguasa di masa Orde Baru.

Setelah timbul korban jiwa, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo akhirnya memutuskan bahwa makam Mbah Priok merupakan cagar budaya. Sayangnya, keputusan yang dibuat dengan mengorbankan sejumlah nyawa, puluhan kendaraan yang dibakar, dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pemerintah. Semua akibat Rusuh Koja, Rabu kelabu itu. (bayu galih)

Menelusuri Awal Penjajahan di Indonesia: Pendekatan “Legal-Method Intention”

April 5, 2010

helmink.com

Apa itu “Penjajahan”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ed.III Depdiknas Balai Pustaka hal.51 tahun 2005 “Penjajahan” mengandung arti:

1. jajah: menjajah berarti keluar-masuk suatu daerah (negeri, dsb)
2. menguasai dan memerintah suatu negeri. Belanda menjajah kita lebih kurang 350 tahun lamanya.

Sedangkan menurut The World Book of Encyclopedia vol.14/92 hlm. 384 adalah :

“Occupancy is a legal-method by which a person or nation acquires title to something that no-one else own”

To gain title to a thing by occupancy a person or nation must take possession of the thing with the intention of keeping it.

Maka pertanyaan yang muncul adalah:

Apa yang dimaksud dengan “legal-method intention“? Kapan hal tersebut mulai tercatat dalam sejarah Indonesia? Benarkah Indonesia dijajah sejak 350 tahun yang lalu?

Tidak diragukan, bahwa sejak proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 2010 ini, maka Indonesia telah merdeka selama 64 tahun lebih beberapa bulan. Tetapi jika kita berbicara tentang kapan awal terjadinya “praktek” penjajahan di negeri kita maka akan ada beberapa data sejarah yang menarik untuk ditelisik.

KBBI (juga beberapa buku pedoman sejarah di sekolah) memberikan kisaran angka 350 tahun atau 3,5 abad sebagai masa berlangsungnya “praktek” penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dari mana asumsi tersebut berasal? Jika kita tarik mundur,angka yang berkaitan dengan 350 tahun adalah dimulai dari tahun 1595 atau abad ke 16 (Hitung: 1945 ke 1595 = 350).

Mengapa 1595? Tahun 1595 adalah masa ketika Cornelis de Houtman bertolak dari Belanda menuju Indonesia dan tiba di Banten kurang lebih setahun setelahnya. Menurut M.C Ricklefs, pada bulan Juni 1596 Kapal-kapal De Houtman tiba di Banten di situ orang-orang Belanda  langsung terlibat konflik, baik dengan orang-orang Portugis, maupun dengan orang-orang pribumi.

Disebutkan pula De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabakan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya. Tahun 1597 sisa-sisa ekspedisi itu kembali ke Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah. Mulailah kemudian dikenal sebagai zaman pelayaran ‘liar’ atau tidak ‘teratur’ (wilde vaart) yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusaan ekspedisi belanda yang saling bersaing dan memiliki keinginan kuat (intention) terhadap rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Pada bulan Maret 1602, Perseroan yang saling bersaing tersebut membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur (VOC). Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem majelis (kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memilki sejumlah direktur yang semuanya berjumlah 17 orang yang disebut dengan Heeren XVII.

Ricklefs menambahkan bahwa personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda tetapi sebagian personelnya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelak dari seluruh Eropa-lah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidak berdayaan, ketidakjujuran, nepotisme dan alkoholisme tersebar luas di kalanagn VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikkan.

Berdasarkan ‘pengorganisasianya’ maka kita dapat menyebut 1602 sebagai awal dari “legal-method intention“. Mengapa? karena VOC mempunyai struktur/rancangan/metode yang secara legal diberikan oleh Parlemen Belanda yang salah satunya dikenal dengan hak Octroii sebagai cara untuk ‘menguasai’ Indonesia. Melalui hak tersebut, kongsi dagang yang diberi semacam hak ‘tatanegara’ dari pemerintah Belanda untuk mengatur pemerintahan di Indonesia.

Hak octroii terkenal dengan undang-undang yang merugikan rakyat; diantaranya melakukan monopoli, melakukan peperangan, membangun benteng-benteng, mengadakan perjanjian-perjanjian dan kewajiban contingenten; yaitu rakyat dipaksa menanam komoditas yang laku di pasar dunia.

Kewajiban inilah yang kemudian memancing kemarahan rakyat sehingga terjadi berbagai perlawanan. Perlawanan-perlawanan tersebut semakin memperjelas bahwa ‘praktek’ (baca: penjajahan) telah terjadi karena mereka bersinggungan dengan rakyat sebagai landowners.

Sehingga, asumsi bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, secara de-jure,  sudah mulai terjadi pada tahun 1595. Namun secara de-facto, “legal-method intention” terjadi pada tahun 1602.

Namun, tentu saja definisi ini merupakan pendekatan untuk mengetahui awal penjajahan Belanda di Indonesia. Karena sebagian ahli sejarah tetap berpendapat, Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Karena hingga awal abad 20 pun masih tetap terjadi perlawanan.

Seperti misalnya yang terjadi di Bali. Setelah peristiwa Puputan Klungkung dan “menyerahnya” Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, baru pada 2 Oktober 1908, Bali dapat seluruhnya dikuasai Belanda. Hal yang sama terjadi di Aceh, dikabarkan Belanda baru dapat menguasai Aceh pada tahun 1908. (Rusyanti)

Adam Malik: Pahlawan atau Pengkhianat?

Desember 8, 2008

Clyde McAvoy (mantan diplomat yang bertugas di Kedutaan Amerika di Jakarta pada 1961-1966):

Saya merekrut dan mengendalikan Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut. ” -dalam wawancara kepada Tim Weiner, 2005 (Majalah Tempo, 1 Desember 2008)

Tim Weiner (penulis buku Legacy of Ashes, The History of CIA):

“Agen” adalah seseorang yang melakukan sesuatu atas permintaan perwira CIA. Anda harus paham bahwa perwira CIA sering menyamar menjadi diplomat pada Departemen Luar Negeri Amerika. Jadi sangat mungkin seorang agen asing mengira dia sedang berhubungan langsung dengan Departemen Luar Negeri, padahal dia sedang memberikan informasi kepada perwira CIA. Jadi, seorang agen bisa saja tidak tahu bahwa dia sudah direkrut. -dalam wawancara kepada Majalah Tempo, 1 Desember 2008

Hadidjojo Nitimihardjo (penulis pidato Adam Malik, Anak Tokoh Murba Maroeto Nitimihardjo):

Adam Malik memang pernah berhubungan dengan CIA, tapi itu bukan berarti dia agen CIA. Adam menjalin kontak dengan CIA karena mendapat tugas dari Soekarno untuk berunding soal Irian Barat dengan Belanda, dan Amerika Serikat sebagai mediator. Yang mewakili Amerika adalah diplomat kawakan Ellsworth Bunker. -dalam wawancara kepada Majalah Tempo, 1 Desember 2008

Rosihan Anwar (wartawan, kawan dekat Adam Malik):

Dia memang lincah, percaya diri, dan pandai memanfaatkan kesempatan. Tapi dia tak akan merendahkan harga dirinya dengan menjadi agen asing dengan bayaran Rp 50 juta. -dalam wawancara kepada Majalah Tempo, 1 Desember 2008

Asvi Warman Adam (Sejarahwan):

Itu menurut saya fitnah. Tuduhan yang tidak bisa dibuktikan karena hanya satu orang yang memberikan pernyataan: Clyde McAvoy. Dia saja yang menyatakan itu yang rekrut dia, terus dia lapor ke atasannya. Tidak ada bukti dia rekrut Adam Malik sebagai agen CIA. Dia bilang itu ke atasannya supaya dianggap berhasil saja. -dalam wawancara kepada Detik.com, (23/11/2008)

Syafi’i Maarif (Cendekiawan):

Saya tidak percaya, itu fitnah. Sebab Adam Malik itu pengikut Tan Malaka. Sosialis. Dana (yang diberikan CIA) itu bisa saja, kenapa dia harus dilibatkan dengan agen. CIA juga membiayai perang dingin Afghanistan, lalu kenapa Taliban tidak dikatakan agen CIA?! – dalam sebuah diskusi di Jakarta, 26 November 2008

Arkeologi: Kerja Tak Kunjung Selesai

November 25, 2008

Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata “arkeologi”? Jawabannya berbeda-beda. Arkeologi adalah: fosil, dinosaurus, penggalian, Indiana Jones, peneliti, dan ilmuwan. Kutipan dibawah ini mungkin cukup mewakili paradigma yang sering kali direpresentasikan oleh masyarakat populer dewasa ini.

“Archaeology is partly the discovery of the treasures of the past, partly the meticulous work of the Scientific analyst, partly the exercise of the creative imagination..”
(Bahn, 1996:11)

Dengan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini, pernyataan diatas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk visual yang mengagumkan oleh tangan-tangan creationist. Yup! Lihatlah perburuan harta karun yang menegangkan di situs Angkor Wat oleh jagoan perempuan bernama Lara Croft dengan latar belakang dunia arkeologi. Penelitian untuk memecahkan serangkaian teka-teki rumit dalam bentuk novel detektif karya Agatha Christie yang terinspirasi oleh suaminya yang juga arkeolog. Simak juga film fiksi karya Steven Spielberg yang fenomenal, sebuah karya imajinasi kreatif di luar batas nalar: Jurassic Park. Inilah bungkusan arkeologi dalam dunia konsumsi di era nanoteknologi. Disadari atau tidak, karya-karya ini cukup mempopulerkan dunia arkeologi kepada masyarakat umum, terutama bagi para pelajar yang ingin meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Di Indonesia sendiri “arkeologi” bukanlah hal yang populer. Gaungnya tidak selaris “ekonomi”. Secara institusional hanya ada 4 universitas yang menggodok calon-calon arkeolog. Keempat universitas ini adalah UI, UGM, UDAYANA, dan UNHAS. Di UI sendiri animonya masih cukup bagus. Rata-rata daya tampung untuk tiap tahunnya sekitar 20-40 kursi. Menurut Irmawati Johan, Sekjur Arkeologi-UI, motif para mahasiswa baru terhadap arkeologi bervariasi dari mulai kesadaran penuh menggapai cita-cita, terinspirasi berbagai film dan buku, hingga yang merasa terjebak dan pada akhirnya tertawan akan nama besar UI. Namun ada pula mahasiswa yang benar-benar menemukan dirinya setelah ia mengenal ilmu ini secara lebih mendalam.

Calon-calon arkeolog muda ini tentunya akan menghadapi berbagai tantangan yang besar ketika mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang ada di luar. Jangan terlalu berharap akan menemukan petualangan spektakuler seperti yang digambarkan dalam layar lebar atau sedramatis novel, karena yang terlihat dibalik layar belum tentu sama dengan kenyataannya.

Tergusurnya situs-situs arkeologi baik yang sekarang terjadi dan dimasa yang akan datang merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan penguasaan kapital. oleh karena itu perjuangan kita seringkali akan berbenturan dengan penguasa dan kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, jumlah situs-situs yang pastinya meningkat tiap 50 tahunnya, memerlukan penanganan yang menyeluruh dan menuntut peningkatan kompetensi tiap individunya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.

Untuk menghadapi tantangan ini dalam metode pengajarannya, jurusan arkeologi UI menerapkan sistem PBL (Problem Based Learning) yang berorientasi pada mahasiswa sebagai objek (Student Centered). Sistem ini menuntut mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dan kritis. Sedangkan dosen sendiri lebih bersifat fasilitator. Pada penerapannya, memang masih banyak ditemukan adanya kekurangan terutama pada masalah fasilitas yang menunjang perkuliahan. Walau begitu pengajar menginginkan agar mahasiswanya mampu bersaing dengan dunia luar untuk memajukan arkeologi di Indonesia. Keterbatasan hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk terus maju. Tidak ada cara lain bagi kita selain giat belajar dan berusaha meraih segala peluang yang ada dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai ilmu yang tidak terlalu populer di Indonesia, bidang karir untuk dunia inipun tidak banyak, ditambah lagi dengan jumlah angkatan pencari kerja yang berjumlah 40 juta lebih, menjadikan persaingan semakin sulit. Banyak ahli-ahli budaya yang berkarir di bidang lain dan sebaliknya. Peluang sebenarnya tetap ada. Banyak Balai-balai arkeologi, Suaka purbakala maupun museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk out of Java dan pembenahan manajemen sumber daya budaya kearah yang lebih baik. The right man in the right place nampaknya sulit di terapkan di Indonesia.

Tapi di balik segala masalah yang pelik ini, gemerlapnya layar hiburan yang membius para treasures seeker, menumpuknya angkatan pencari kerja, angkuhnya tembok-tembok penguasa dan budak kapital penjual aset-aset bangsa…. Lebih dari sekedar produk konsumsi, Arkeologi mengusung nilai yang lebih penting lagi yaitu sebuah proyek idealis yang menuntut tanggung jawab bersama demi kemanusiaan dan identitas bangsa yang mau tidak mau harus diteruskan kepada generasi penerus dan pelurus bangsa yang tidak hanya “mentok” pada batasan-batasan karir semata. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Calne:

“Keselamatan kita, sebagai hewan sosial, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti, dan keampuhan kebudayaan moderen berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun diatas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dan jauh sebelum itu… apa yang kita tahu mengenai sejarah pratulis adalah berkat arkeologi…”
(Calne, 2005: 38&84)

Untuk menjawab tantangan ini, dewasa ini banyak sekali komunitas-komunitas pencinta budaya di Indonesia dengan berbagai visi dan misi. Selain sebagai sarana berkreasi, dan mengintelektualisasikan diri,…komunitas ini mampu memperlihatkan eksistensinya ditengah arus globalisasi ekonomi yang semakin gencar. Lihatlah kreatifitas kelompok yang terkenal dengan Dagadu atau Joger-nya. Dengan tetap mengusung tema pelestarian budaya, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan keuntungan dan nama besar, sekaligus membuka peluang kerja.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Negeri ini menyimpan banyak potensi baik propinsi, suku-bangsa, bahasa, adat-istiadat, macam kuliner, dan lain-lain yang tersebar di 276.000 pulau dengan kandungan potensi arkeologi yang belum tergali. Itu merupakan aset yang sangat berharga. Siapa lagi yang akan memberdayakannya selain kita sebagai generasi penerus bangsa?

Jadi sebenarnya, Archaeology is a dynamically expanding subject. Calne mengingatkan kita bahwa, lebih dari romantisme akan kenangan masa lalu, arkeologi merupakan dasar dari terbentuknya peradaban moderen sekarang ini. Arkeologi memberi kita “harta karun” agar belajar dari sejarah untuk masa depan yang lebih baik.

Peluang karir yang sesuai mungkin terbatas di dunia nyata, tapi tidak dalam imajinasi

Lihatlah biografi JFK, Sukarno, Bill Gates, Sayyid Quthb. Mereka semua adalah pengkhayal. Imajinasi merupakan tulang punggung penyangga kreativitas dan sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan (Annis Matta) kita. Kecintaan kita pada Arkeologi dapat ditransformasikan dalam berbagai bentuk dan kreasi. Jadilah aktif, kritis dan kompeten. Teruslah berkarya dan ingat:

“Everything that You Can Imagine Is Real”
(Albert Einstein)

(Rusyanti)