Archive for the 'artikel' Category

Agar Wayang Orang Terus Hidup di Indonesia

Oktober 8, 2010

Wayang Orang (berani.co.id)

Sejumlah seniman wayang orang yang tergabung dalam Produksi Wayang Orang Bharata mendatangi Wakil Presiden Boediono di Istana Wakil Presiden, 8 Oktober 2010.

Kedatangan mereka untuk mengundang Boediono menghadiri pagelaran Wayang Orang menyambut hari pahlawan di Gedung Kesenian Jakarta, 8 – 9 November mendatang. Pagelaran akan menghadirkan cerita “Salya Wiratama”.

Dalam kesempatan itu, para seniman wayang orang ini sempat mengeluhkan tentang kurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional, terutama wayang orang.

“Memang harus diakui kesenian tradisional kurang diminati. Walau kami dengan keterbatasan pendidikan dan ekonomi, tapi tetap berkarya agar kesenian Indonesia asli masih ada,” kata Teguh Kenthus Ampiranto, seniman wayang orang, usai menemui Wapres Boediono hari ini.

Sedangkan pimpinan pimpinan Bharata, Soeparmo, juga bercerita kurangnya minat terhadap wayang orang menyebabkan sepuluh kelompok wayang orang mati. “Wayang orang memang sudah senin-kamis,” kata Soeparmo. Salah satu alasannya adalah kurangnya kesejahteraan bagi pelaku seni wayang orang.

Karena itu Soeparmo berharap kedatangan Boediono dalam pagelaran Wayang Orang Bharata dapat menumbuhkan minat terhadap kesenian wayang orang. “Jadi injeksi psikologi walau honor (pemainnya) masih rendah. Kalau (Boediono) datang sangat berharga bagi kelangsungan hidupnya,” ucap Soeparmo.

Apabila seni wayang orang terus menurun, Soeparmo khawatir wayang orang akan hilang dari budaya Indonesia. Padahal saat ini, wayang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia yang diakui dunia (A Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

“Jangan sampai malah kita yang belajar wayang dari luar negeri. Kalau orang luar negeri datang ke Indonesia mau lihat wayang orang tapi ngga ada, kan lucu,” ujar Soeparmo.

Lalu, apakah Boediono akan datang menghadiri pagelaran Wayang Orang Bharata? “Dari senyumnya saya yakin Wapres akan hadir dan beri sambutan. Betul-betul akan luar biasa,” jawab Soeparmo. (bayu galih)

Iklan

Menelusuri Awal Penjajahan di Indonesia: Pendekatan “Legal-Method Intention”

April 5, 2010

helmink.com

Apa itu “Penjajahan”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ed.III Depdiknas Balai Pustaka hal.51 tahun 2005 “Penjajahan” mengandung arti:

1. jajah: menjajah berarti keluar-masuk suatu daerah (negeri, dsb)
2. menguasai dan memerintah suatu negeri. Belanda menjajah kita lebih kurang 350 tahun lamanya.

Sedangkan menurut The World Book of Encyclopedia vol.14/92 hlm. 384 adalah :

“Occupancy is a legal-method by which a person or nation acquires title to something that no-one else own”

To gain title to a thing by occupancy a person or nation must take possession of the thing with the intention of keeping it.

Maka pertanyaan yang muncul adalah:

Apa yang dimaksud dengan “legal-method intention“? Kapan hal tersebut mulai tercatat dalam sejarah Indonesia? Benarkah Indonesia dijajah sejak 350 tahun yang lalu?

Tidak diragukan, bahwa sejak proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 2010 ini, maka Indonesia telah merdeka selama 64 tahun lebih beberapa bulan. Tetapi jika kita berbicara tentang kapan awal terjadinya “praktek” penjajahan di negeri kita maka akan ada beberapa data sejarah yang menarik untuk ditelisik.

KBBI (juga beberapa buku pedoman sejarah di sekolah) memberikan kisaran angka 350 tahun atau 3,5 abad sebagai masa berlangsungnya “praktek” penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dari mana asumsi tersebut berasal? Jika kita tarik mundur,angka yang berkaitan dengan 350 tahun adalah dimulai dari tahun 1595 atau abad ke 16 (Hitung: 1945 ke 1595 = 350).

Mengapa 1595? Tahun 1595 adalah masa ketika Cornelis de Houtman bertolak dari Belanda menuju Indonesia dan tiba di Banten kurang lebih setahun setelahnya. Menurut M.C Ricklefs, pada bulan Juni 1596 Kapal-kapal De Houtman tiba di Banten di situ orang-orang Belanda  langsung terlibat konflik, baik dengan orang-orang Portugis, maupun dengan orang-orang pribumi.

Disebutkan pula De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabakan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya. Tahun 1597 sisa-sisa ekspedisi itu kembali ke Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah. Mulailah kemudian dikenal sebagai zaman pelayaran ‘liar’ atau tidak ‘teratur’ (wilde vaart) yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusaan ekspedisi belanda yang saling bersaing dan memiliki keinginan kuat (intention) terhadap rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Pada bulan Maret 1602, Perseroan yang saling bersaing tersebut membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur (VOC). Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem majelis (kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memilki sejumlah direktur yang semuanya berjumlah 17 orang yang disebut dengan Heeren XVII.

Ricklefs menambahkan bahwa personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda tetapi sebagian personelnya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelak dari seluruh Eropa-lah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidak berdayaan, ketidakjujuran, nepotisme dan alkoholisme tersebar luas di kalanagn VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikkan.

Berdasarkan ‘pengorganisasianya’ maka kita dapat menyebut 1602 sebagai awal dari “legal-method intention“. Mengapa? karena VOC mempunyai struktur/rancangan/metode yang secara legal diberikan oleh Parlemen Belanda yang salah satunya dikenal dengan hak Octroii sebagai cara untuk ‘menguasai’ Indonesia. Melalui hak tersebut, kongsi dagang yang diberi semacam hak ‘tatanegara’ dari pemerintah Belanda untuk mengatur pemerintahan di Indonesia.

Hak octroii terkenal dengan undang-undang yang merugikan rakyat; diantaranya melakukan monopoli, melakukan peperangan, membangun benteng-benteng, mengadakan perjanjian-perjanjian dan kewajiban contingenten; yaitu rakyat dipaksa menanam komoditas yang laku di pasar dunia.

Kewajiban inilah yang kemudian memancing kemarahan rakyat sehingga terjadi berbagai perlawanan. Perlawanan-perlawanan tersebut semakin memperjelas bahwa ‘praktek’ (baca: penjajahan) telah terjadi karena mereka bersinggungan dengan rakyat sebagai landowners.

Sehingga, asumsi bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, secara de-jure,  sudah mulai terjadi pada tahun 1595. Namun secara de-facto, “legal-method intention” terjadi pada tahun 1602.

Namun, tentu saja definisi ini merupakan pendekatan untuk mengetahui awal penjajahan Belanda di Indonesia. Karena sebagian ahli sejarah tetap berpendapat, Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Karena hingga awal abad 20 pun masih tetap terjadi perlawanan.

Seperti misalnya yang terjadi di Bali. Setelah peristiwa Puputan Klungkung dan “menyerahnya” Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, baru pada 2 Oktober 1908, Bali dapat seluruhnya dikuasai Belanda. Hal yang sama terjadi di Aceh, dikabarkan Belanda baru dapat menguasai Aceh pada tahun 1908. (Rusyanti)

Bagaimana Cara Membuat Candi?

Maret 22, 2010

Denah Candi Prambanan (borobudur.tv)

Manusia masa kini hanya tahu wujud candi setelah jadi, itupun kebanyakan dalam keadaan tak lagi sempurna. Sebagian orang hanya mengagumi keindahan, kemegahannya, atau—mungkin—kekunoannya, hingga tak sempat terbersit untuk memikirkan bagaimana candi-candi itu dibuat.

Padahal, candi juga mengalami proses pembangunan, sama seperti bangunan zaman sekarang. Hanya saja, pada masa itu belum ada semen dan alat-alat bangunan modern lainnya. Lalu bagaimana para nenek moyang membangun bangunan suci ini?

Membuat candi, sudah tentu, tak semudah membuat gedung mutakhir. Ada banyak hal-hal penting dan sakral yang harus dilakukan sebelumnya.

Pertama, Yajamana (orang yang berniat membangun candi) harus menghubungi Maha Brahmana dengan para pekerjanya yang disebut Silpin. Mereka akan mencari tempat yang kira-kira pas untuk candi. Biasanya tempat yang paling digemari adalah lahan di dekat air.

Lebih bagus lagi jika lokasinya di dekat pertemuan dua sungai (tempuran). Ada juga beberapa lahan terlarang untuk lokasi candi yang harus dihindari. Misalnya tanah bekas pembakaran mayat, tanah berpasir, tanah berbatu, dan tanah rawa.

Setelah ditemukan, maka mulailah tahap pemeriksaan tanah. Tahap pertama adalah Bhupariksa. Bhupariksa bisa dilakukan lewat dua cara, cara magis atau cara biasa. Jika lewat cara biasa, maka yang pertama diperiksa adalah kepadatan tanahnya. Caranya bermacam-macam. Cara yang pertama, tanah digali lalu diisi air dan dibiarkan selama 24 jam.

Esok harinya tanah itu diperiksa. Jika air terserap habis atau hanya tersisa sedikit artinya tanahnya tidak bagus karena terlalu gembur. Jika air berkurangnya cuma sedikit, artinya juga sama. Tanah yang paling baik jika air hanya tersisa setengah. Selain lewat cara ini, cara lain untuk memeriksa kepadatan tanah adalah dengan menggali lalu diurug lagi. Lahan tak akan dianggap baik jika setelah diurug tanahnya terlalu sedikit atau berlebihan, jadi harus sama rata.

Lalu masuklah tahap kedua. Di tahap ini yang diuji adalah kandungan gas tanah. Caranya? Pada malam hari diletakkan clupak (pelita dari tanah liat) di atas tanah yang dimaksud. Jika setelah dinyalakan apinya langsung padam, artinya tanah banyak mengandung gas beracun. Jika api menyala tapi mengarah ke selatan, tanah tak dianggap baik karena selatan adalah arah dewa kematian (dewa Yama). Yang paling baik jika api menyala tegak lurus.

Tahap ketiga menguji kesuburan tanah. Tanah diairi, dicangkul, dibajak, lalu ditaburi benih. Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 1-2 hari maka tanah ini adalah tanah brahmana (kualitas nomor wahid). Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 3-4 hari disebut tanah ksatria (masih lumayan walau tak sebaik jenis brahmana). Jika tumbuh dalam waktu 5-6 hari di sebut tanah waisya. Kalau menemukan tanah jenis ini, terserah masih mau digunakan atau dibuang. Dan terakhir, jika tumbuhnya lebih dari 7 hari maka disebut tanah sudra. Tanah sudra tidak disarankan untuk digunakan dalam pembangunan bangunan suci.

Tes dilanjutkan dengan menguji warna dan bau tanah. Tanah Brahmana biasanya berwarna seperti mutiara dan berbau harum sementara tanah ksatria berwarna merah dan berbau darah. Tanah waisya berwarna kuning keemasan, dan tanah sudra berwarna gelap atau kelabu.
Akhirnya Bhupariksa selesai.

Saatnya membangun candi! Lahan yang dipilih dibatasi dengan benang putih berbentuk persegi dengan garis diagonal yang juga ditandai dengan benang. Maka didapatlah titik tengah yang disebut Brahmasthana. Artinya ‘tempat bersemayamnya Dewa Brahma.’ Nah, setelah itu dibuatlah kotak-kotak atau grid. Sistem pengkotakan ini disebut Vastupurusa Mandala, dimana masing-masing kotak terdiri dari satu nama dewa.

Titik tengah tempat bersemayamnya Dewa Brahma tadi digali 1×1 meter lalu didasarnya diletakkan peripih (Garbhapatra). Peripih tersebut berisi benda-benda perlambang panca maha bhuta (lima unsur alam), yaitu akasa, tanah, air, api, dan angin. Simbol-simbol yang digunakan bisa berupa biji, benang, kertas emas (biasanya bertuliskan mantra atau nama dewa), cermin perunggu, dan tulang hewan

Untuk unsur api biasanya diwakilkan oleh abu. Karena itulah ahli-ahli Belanda zaman dulu mengidentikkan candi dengan makam. Kelak pendapat ini ditentang R. Soekmono, tapi sayangnya sampai sekarang beberapa tulisan mengenai candi masih menggunakan pendapat lama orang-orang bule ini.

Kembali lagi ke Brahmasthana. Diatas titik tengah inilah biasanya dibangun candi induk. Namun ada banyak candi di Indonesia yang tidak menerapkan aturan ini, misalnya Candi Prambanan yang titik tengahnya berada di dekat tangga.

Lalu bagaimana proses pembangunan candi itu sendiri? Kurang lebih sama dengan pembangunan gedung modern. Bahan-bahan dikumpulkan, batu-batunya (atau bata) disusun, lalu dibuat berbagai macam hiasan yang membuat candi jadi kelihatan lebih oke.

Tapi ada teknik penyusunan batu maupun bata yang khas dari candi. Untuk candi berbahan bata tekniknya lebih sederhana. Bata digosokkan satu sama lain sampai tercipta bubuk yang dapat berperan seperti semen lalu diperciki dengan air.

Dijamin kuat, bahkan mungkin jauh lebih kuat dari semen modern. Buktinya setelah ratusan tahunpun bangunan-bangunan ini masih bertahan. Tapi candi yang menggunakan batu lebih rumit karena batu-batu tersebut disambung-sambung satu sama lain. Ada banyak teknik sambungan batu yang kita kenal, salah satunya teknik sambungan batu langsung.

Caranya? Di salah satu permukaan sebuah batu dibuat sebuah tonjolan, dan di batu lain di buat semacam ‘lembah’ yang cocok dengan batu satunya lagi. Jadi mirip seperti puzzle yang dicocok-cocokkan satu sama lain. Ada juga sambungan batu pengunci. Dengan teknik ini, batu-batu dikaitkan lewat bantuan batu pengunci di tengah-tengah kedua batu itu.

Rumit memang. Makanya harus pikir-pikir lagi jika ingin mencorat-coret candi dengan berbagai macam aksi vandalisme dan perusakan. Semenit bagi kita untuk merusak, namun butuh seratus tahun bagi para nenek moyang untuk membangun. Ironis! (Khairun Nisa/berbagai sumber)

Kitab dan Yoga Di Balik Pembuatan Arca

Februari 19, 2009

Selama ini arca hanya dianggap sebagai karya seni, walau ada juga umat beragama tertentu yang menjadikan arca sebagai media ibadah. Namun bagi para peneliti, sekedar mengetahui nilai seni arca tidak cukup. Apalagi sekedar mengetahui nilai jual ke kolektor. Ada hal menarik lain yang harus diketahui peneliti arca: cara pembuatan.

Pembuatan arca tak hanya melibatkan batu, pahat atau benda lain, tapi tergantung juga dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Kita menyebutnya yoga, sebuah upaya untuk selekas mungkin bertemu dengan dewa.

Kitab Upanisad menggambarkan bagaimana proses menghadirkan dewata dalam diri seniman. Seorang seniman, atau lebih tepatnya disebut silpin (seniman keagamaan), harus menyingkirkan segala pengaruh dari dunia luar yang mengganggu. Gangguan itu mengambil wujud dalam banyak bentuk, misalnya emosi, keinginan pribadi, dan pemikiran pribadi. Setelah itu ditiadakan, silpin memvisualisasikan wujud dewata dalam patokan tertentu. Caranya dengan meditasi dan mantra.

Aktivitas penting dalam yoga adalah menghadirkan dewa dalam dirinya sendiri. Konsep itu dikenal dengan akar sati, yaitu menarik konsep dewata dari alam ide ke alam nyata. Alam nyata tersebut berada dalam diri silpin, tepatnya dalam mental silpin. Alam ide sama dengan alam kedewaan yang sifatnya abstrak. Di alam itulah para dewa bersemayam dan melakukan bebagai kegiatan. Mereka setiap saat dapat dihubungi manusia.

Setelah alam kedewataan didekatkan, maka masuklah gambaran dewa tertentu atau hakikat dewa tertentu dalam diri seniman. Sang dewa kemudian bersemayam di suatu tempat dalam diri seniman yang dinamakan antar-hrdaya-akasa (ruang kosong dalam hati dengan kebersihan sempurna serta bebas dari segala gangguan). Mereka yang menjaga dewa dalam hatinya bisa bertindak seperti dewa, misalnya terbang atau berjalan di atas air.

Di dalam ruang kosong inilah terjadi pertemuan yang mesra dan menimbulkan kenikmatan antara dewa dan manusia. Pada saat itu tercapai klimaks, jnana sattva rupa, yaitu wujud dari kebenaran dan pengetahuan sejati tentang kedewaan. Hasilnya, para silpin tak akan keliru dalam berkarya sebab hakekat dewa telah ada dalam dirinya. Dewa yang dipahaminya tampak bagai bayangan yang muncul secara ajeg di dalam benak atau seperti melihat sosok dalam mimpi.

Bila proses itu terjadi maka si seniman yang juga seorang yogin telah mampu menghayati dan mengidentifikasi subjek dewa, sifat dewa, penggambaran dewa, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dewa secara total. Identifikasi itu harus terus dipertahankan selama diperlukan ketika ia membuat arca.

Selain yoga, hal penting lainnya dalam pembuatan arca adalah ukuran. Aturan ukuran arca terdapat dalam kitab Agama. Salah satu satuan ukur dikenal dengan tala. Peran tala kurang lebih sama dengan peran sentimeter dan meter dalam kehidupan modern. Secara harfiah, tala berarti telapak tangan. Maksudnya adalah ukuran antara ujung jari tengah hingga akhir dari telapak tangan dekat pergelangan. Setiap silpin yang membuat arca harus menggunakan tangannya sendiri dalam mengukur arca. Maka kegunaan tangan bagi mereka tak hanya sebatas dalam memegang pahat. Ukuran tala ini dianggap sama dengan panjang muka mulai dari batas rambut (dahi) sampai ujung dagu. Tak percaya? Coba rentangkan telapak tangan di wajah masing-masing, pasti panjangnya sama.

Kitab Vaikhanasagama juga menyebut angula, selain tala. Angula merupakan ukuran lebar ruas atas ibu jari.Besarnya kira-kira 0,75 inchi atau sekitar seperdelapan cm. Di luar angula dan tala, ada satuan ukur lain yang lebih kecil, yaitu yava. 1 tala sama dengan 12 angula, satu angula sama dengan 8 yava.

Arca masing-masing tokoh kedewaan memiliki ukuran yang berbeda. Kitab Matsyapurana menyebutkan ukuran dasatala yang sama dengan 120 angula. Ukuran ini hanya diperbolehkan bagi arca Narayana, Rama, Narasimha, Bali, Indra, Parasurama, dan Arjuna. Ukuran Navatala yang terdiri dari 108 angula diperuntukkan bagi Raksasa, Asura, Yaksa, Apsara, dan Marudagana.

Astatala yang sama dengan 96 angula diperuntukkan bagi arca laki-laki. Saptatala yang sama dengan 72 angula diperuntukkan bagi Vetala. Pancatala yang berjumlah 60 angula diperuntukkan bagi Ganesha. Catustala yang sama dengan 48 angula diperuntukkan bagi arca Vamana (orang kerdil). Tritala yang sama dengan 36 angula dipergunakan bagi arca-arca Bhuta dan Kinnara. Dvitala atau 24 angula diperuntukkan bagi arca Kusmandha. Dan terakhir (akhirnya…!) ukuran Ekatala atau 12 angula yang diperuntukkan bagi arca Kabanda. Ppfffuuuhhh… cukup berat memang mencerna semua ukuran itu.

Namun mengetahui teknik para silpin dalam membuat arca adalah hal paling berat. Hal terbaik yang kita bisa hanyalah mengamati hasil akhir karya mereka di berbagai museum atau situs. Tahapan pengarcaan hanya dapat diduga melalui analogi dengan teknik pembuatan arca di masa sekarang yang masih dikerjakan secara tradisional. Khusunya arca batu, tanah liat, dan logam sebab bisa dipastikan jarang sekali menemukan penggarap arca modern yang membuat arcanya dari bahan-bahan aneh semisal permata dan mentega. Tertarik melakukan analogi etnografi? (Nisa)

Jejak Crusoe di Tanah Sunda

November 17, 2008

Cast away..going at it alone..

Cast away..now im on my own..

Trouble bound lost and found cast away….(Green Day)

Sebagai sebuah tema dalam karya sastra, ‘cast away’ telah dipopulerkan oleh seorang penulis Inggris; Daniel Defoe (1660-1731) melalui karyanya yang fenomenal: Robinson Crusoe. Tapi tahukah Anda, saking terkenalnya novel ini sehingga data sejarah literature masa Kolonial di Indonesia sempat mengabadikan kisahnya dalam bahasa Sunda dan dibaca oleh kalangan elit pada masa itu?

Secara ringkas buku tersebut menceritakan tentang kecerdasan strategi dan pertahanan Crusoe untuk hidup dalam pulau tersebut selama 26 tahun. Dalam cerita tersebut juga dimunculkan seorang tokoh yang disebut sebagai “Friday”–yang selanjutnya menjadi frase “man Friday” yang berarti ‘trusted servant’ atau ‘pelayan setia’. Setelah 28 tahun keduanya kemudian berhasil ke luar dari pulau tersebut dan berlayar menuju Inggris.

Penjelajah Daisuke Tkahashi lebih dari satu dasawarsa meyakini bahwa Alexander Selkirk, seorang kelasi Skotlandia, yang mungkin mengilhami Robinson Crusoe. Selkirk terdampar dan bertahan hidup di sebuah pulau, jauh dari pantai Cile pada 1704. Tepatnya di dekat teluk Cumberland. Selkirk kemudian diperkirakan membangun dua pondok kayu ditutupi lalang dan dilapisi kulit kambing (Kompas, 25 September 2005).

Lalu bagaimana Robinson Crusoe bisa tercetak dalam bahasa Sunda?

Adalah Kartawinata (1846-1906), seorang anak dari (hoofd) panghulu Moehamad Moesa (pengarang Panjiwoeloeng, 1871), yang terlibat dalam berbagai penerjemahan pada masa itu. Bersama saudara dan anak-anak Sunda lain, dia belajar bahasa Belanda di Garut. Adiknya, Lasminingrat juga seorang penulis yang hidup sezaman dengan Kartini dan juga turut berkontribusi dalam pendidikan gadis-gadis Sunda pada masa itu (Moriyama: 2005).

Kartawinata bersama K. F. Holle menerjemahkan berbagai novel eropa (Kapten Bonteku, Robinson Crusoe, Kapitein Marion, dll), buku pertanian, buku pelajaran, kamus-bersama P. Blusse, serta publikasi-publikasi pemerintah. Dia kemujdian ditunjuk sebagai asisten penerjemah untuk bahasa Sunda pada Februari 1874 dan kemudian diangkat menjadi pegawai penerjemah resmi. Karena jasanya yang berharga bagi Kolonial, pemerintah Batavia kemudian menghadiahinya dengan medali perak.

Sebelumnya, diketahui bahwa bahasa Sunda diakui secara formal keberadaannya oleh pemerintah Kolonial pada abad ke-19 dan disadari pentingnya oleh para penguasa Bumi putera (Bupati dan jajaran di bawahnya) yang kemudian penggunaannya diperluas bukan hanya sebagai alat komunikasi social secara lisan seperti pada aad sebelumnya (17 dan 18) melainkan juga sebagai objek penelitian ilmu bahasa, bahasa pengantar, dan mata pelajaran di sekolah, dan media karya tulis.

Lalu apa yang menarik dari karya terjemahan Kartawinata?

Menurut Moriyama, bukan hanya uraian rinci mengenai kebiasaan dan pemikiran Barat yang membuat terjemahan Kartawinata terkesan modern. Yang juga membangkitkan minat dan mengejutkan para pembaca Bumiputra adalah adanya objek-objek dan orang-orang asing yang ada pada buku-buku itu yang dilukis dengan sangat hidup dan realistis dalam gambar sketsa, kontras dengan naskah-naskah Bali dan Jawa dan Sunda yang menurut Ekadjati (1996:101-128) hanya sedikit mengandung ilustrasi dan gambar.

Kombinasi antara tulisan dan gambar tentunya dirasakan sebagai sesuatu yang sangat baru oleh para pembaca Sunda; sekarang mereka dapat membaca cerita sambil mengembangkan imajinasi mereka tentang peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Boleh dibilang, para pembaca dipaksa untuk membaca dan melihat, suatu cara baru untuk memahami dunia ini yang merupakan kunci penting menuju modernisasi (Moriyama, 2005: 249-250).

MODERNISASI. Itulah benang merah yang hendak dirajut dalam rangkaian kata demi kata, dalam transliterasi maupun transkripsi oleh para pendahulu kita- yang pada akhirnya membawa pada sebuah babak baru: pembentukan Commissie voor de Inlandsch School-en Volkslectuur (Komisi untuk buku-buku sekolah Bumiputera dan buku-buku bacaan populer) pada 1908-sebuah angka tahun yang berharga bagi tonggak sejarah kebangkitan Nasional! (Rusyanti)