Archive for the 'artefak' Category

Dieng, Olympus-nya Jawa Kuno

Mei 30, 2011

Komplek Percandian Arjuna

Jika dewata memiliki tempat tinggalnya di Bumi, mungkin mereka akan memilih tinggal di Dieng. Bisa jadi ini alasan orang Jawa Kuno menyebut tempat ini “Dieng”: Berasal dari kata “Di-Hyang“, gabungan dua kata dalam Bahasa Kawi yang memiliki arti “tempat dewata”.

Perpaduan peninggalan arkeologi dari abad 8 atau 9 dengan keindahan alam menjadikan Dieng pantas dianggap sebagai tempat tinggal para dewa. Peninggalan candi yang dibangun di tengah keindahan pegunungan yang memiliki sejumlah telaga dan kawah, menjadikan Dieng tampak nyata sebagai perwujudan sebuah kahyangan.

Soetjipto Wirjosuparto dalam buku Sedjarah Bangunan Kuna Dieng (1957) mencatat peninggalan arkeologi di pegunungan Dieng pertama kali ‘ditemukan’ oleh sejarawan Belanda, H.C. Cornelius pada tahun 1814. Saat itu, dataran Dieng masih berupa danau. Ini menyebabkan sebagian di antara candi-candi yang ditemukan masih terendam air.

Pada tahun 1856, Isidore van Kinsbergen menjadi pelopor yang membuat sistem pengairan sehingga dataran di sekitar candi-candi menjadi kering. Dengan demikian, von Kinsbergen mudah untuk mengambil foto mengenai candi-candi di pegunungan Dieng.

Sedikitnya, ada 9 candi yang masih tersisa di pegunungan Dieng. Lima candi termasuk dalam kompleks percandian Arjuna: Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembodro, Semar (berfungsi sebagai candi perwara atau pendamping candi Arjuna, satu-satunya perwara yang masih utuh). Sedikit di sebelah barat daya komplek percandian Arjuna, terdapat candi Setyaki.

Sedangkan, di sebelah utara komplek percandian Arjuna, terdapat candi Dwarawati, dan candi Gatotkaca di sebelah barat Arjuna. Adapun di bagian paling selatan, terdapat candi Bima.

Tidak jelas sejak kapan percandian di Dieng dinamakan dengan nama-nama tokoh wayang, terutama dari kisah Mahabharata. Kemungkinan nama-nama itu diberikan beberapa abad kemudian.

Menilik temuan prasasti di sekitar komplek candi yang memiliki angka tahun 713 Saka/809 Masehi, percandian Dieng diperkirakan berasal dari abad ke-8 atau 9. Namun, belum diketahui nama asli dari candi-candi yang bersifat Saiwa dari masa Klasik Tua ini.

Jika mengambil klasifikasi versi Soekmono, maka gaya arsitektur candi di Dieng, memiliki langgam Jawa Tengah Utara. Seluruh candi yang ditemukan berasal dari bahan batu andesit, dengan ragam hias sederhana, seperti kala-makara dan relief. Tapi tidak terlihat arca di percandian Dieng, karena sebagian sudah dipindahkan, antara lain ke Museum Nasional.

Hanya candi Bima yang memiliki gaya arsitektur berbeda. Sebagian ahli arkeologi menyebut candi Bima memiliki gaya arsitektur India Utara, berbeda dengan candi lain yang bergaya India Selatan. Belum diketahui secara pasti apakah candi ini berasal dari periode yang sama dengan candi yang lain di pegunungan tinggi Dieng.

Mengenai keletakan candi di dataran tinggi, ini disebabkan aturan dalam kitab Vastusastra yang menjadi pedoman bagi para silpin (seniman). Di situ disebut, tempat para dewa baiknya berada di gunung, dengan air yang mengalir. Secara simbolik, gunung juga merupakan perwujudan mikrokosmos, tiruan dari Mahameru yang menjadi tempat tinggal dewata.

Konsep ini dikenal secara umum di sejumlah kebudayaan. Misalnya tempat tinggal Zeus dan sejumlah dewa Yunani di gunung Olympus.

Karena itu jika Anda sedang berada di Dieng, cobalah berada di komplek percandian Arjuna saat matahari terbit. Tataplah ufuk saat jingga fajar mulai terlihat. Paduan terbit matahari dengan kabut pegunungan menghasilkan warna perak yang melatari candi, yang dikenal dengan sebutan silver sunrise…

Inilah Olympus-nya masyarakat Jawa Kuno. (Bayu Galih, Mei 2011)

Iklan

Bagaimana Cara Membuat Candi?

Maret 22, 2010

Denah Candi Prambanan (borobudur.tv)

Manusia masa kini hanya tahu wujud candi setelah jadi, itupun kebanyakan dalam keadaan tak lagi sempurna. Sebagian orang hanya mengagumi keindahan, kemegahannya, atau—mungkin—kekunoannya, hingga tak sempat terbersit untuk memikirkan bagaimana candi-candi itu dibuat.

Padahal, candi juga mengalami proses pembangunan, sama seperti bangunan zaman sekarang. Hanya saja, pada masa itu belum ada semen dan alat-alat bangunan modern lainnya. Lalu bagaimana para nenek moyang membangun bangunan suci ini?

Membuat candi, sudah tentu, tak semudah membuat gedung mutakhir. Ada banyak hal-hal penting dan sakral yang harus dilakukan sebelumnya.

Pertama, Yajamana (orang yang berniat membangun candi) harus menghubungi Maha Brahmana dengan para pekerjanya yang disebut Silpin. Mereka akan mencari tempat yang kira-kira pas untuk candi. Biasanya tempat yang paling digemari adalah lahan di dekat air.

Lebih bagus lagi jika lokasinya di dekat pertemuan dua sungai (tempuran). Ada juga beberapa lahan terlarang untuk lokasi candi yang harus dihindari. Misalnya tanah bekas pembakaran mayat, tanah berpasir, tanah berbatu, dan tanah rawa.

Setelah ditemukan, maka mulailah tahap pemeriksaan tanah. Tahap pertama adalah Bhupariksa. Bhupariksa bisa dilakukan lewat dua cara, cara magis atau cara biasa. Jika lewat cara biasa, maka yang pertama diperiksa adalah kepadatan tanahnya. Caranya bermacam-macam. Cara yang pertama, tanah digali lalu diisi air dan dibiarkan selama 24 jam.

Esok harinya tanah itu diperiksa. Jika air terserap habis atau hanya tersisa sedikit artinya tanahnya tidak bagus karena terlalu gembur. Jika air berkurangnya cuma sedikit, artinya juga sama. Tanah yang paling baik jika air hanya tersisa setengah. Selain lewat cara ini, cara lain untuk memeriksa kepadatan tanah adalah dengan menggali lalu diurug lagi. Lahan tak akan dianggap baik jika setelah diurug tanahnya terlalu sedikit atau berlebihan, jadi harus sama rata.

Lalu masuklah tahap kedua. Di tahap ini yang diuji adalah kandungan gas tanah. Caranya? Pada malam hari diletakkan clupak (pelita dari tanah liat) di atas tanah yang dimaksud. Jika setelah dinyalakan apinya langsung padam, artinya tanah banyak mengandung gas beracun. Jika api menyala tapi mengarah ke selatan, tanah tak dianggap baik karena selatan adalah arah dewa kematian (dewa Yama). Yang paling baik jika api menyala tegak lurus.

Tahap ketiga menguji kesuburan tanah. Tanah diairi, dicangkul, dibajak, lalu ditaburi benih. Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 1-2 hari maka tanah ini adalah tanah brahmana (kualitas nomor wahid). Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 3-4 hari disebut tanah ksatria (masih lumayan walau tak sebaik jenis brahmana). Jika tumbuh dalam waktu 5-6 hari di sebut tanah waisya. Kalau menemukan tanah jenis ini, terserah masih mau digunakan atau dibuang. Dan terakhir, jika tumbuhnya lebih dari 7 hari maka disebut tanah sudra. Tanah sudra tidak disarankan untuk digunakan dalam pembangunan bangunan suci.

Tes dilanjutkan dengan menguji warna dan bau tanah. Tanah Brahmana biasanya berwarna seperti mutiara dan berbau harum sementara tanah ksatria berwarna merah dan berbau darah. Tanah waisya berwarna kuning keemasan, dan tanah sudra berwarna gelap atau kelabu.
Akhirnya Bhupariksa selesai.

Saatnya membangun candi! Lahan yang dipilih dibatasi dengan benang putih berbentuk persegi dengan garis diagonal yang juga ditandai dengan benang. Maka didapatlah titik tengah yang disebut Brahmasthana. Artinya ‘tempat bersemayamnya Dewa Brahma.’ Nah, setelah itu dibuatlah kotak-kotak atau grid. Sistem pengkotakan ini disebut Vastupurusa Mandala, dimana masing-masing kotak terdiri dari satu nama dewa.

Titik tengah tempat bersemayamnya Dewa Brahma tadi digali 1×1 meter lalu didasarnya diletakkan peripih (Garbhapatra). Peripih tersebut berisi benda-benda perlambang panca maha bhuta (lima unsur alam), yaitu akasa, tanah, air, api, dan angin. Simbol-simbol yang digunakan bisa berupa biji, benang, kertas emas (biasanya bertuliskan mantra atau nama dewa), cermin perunggu, dan tulang hewan

Untuk unsur api biasanya diwakilkan oleh abu. Karena itulah ahli-ahli Belanda zaman dulu mengidentikkan candi dengan makam. Kelak pendapat ini ditentang R. Soekmono, tapi sayangnya sampai sekarang beberapa tulisan mengenai candi masih menggunakan pendapat lama orang-orang bule ini.

Kembali lagi ke Brahmasthana. Diatas titik tengah inilah biasanya dibangun candi induk. Namun ada banyak candi di Indonesia yang tidak menerapkan aturan ini, misalnya Candi Prambanan yang titik tengahnya berada di dekat tangga.

Lalu bagaimana proses pembangunan candi itu sendiri? Kurang lebih sama dengan pembangunan gedung modern. Bahan-bahan dikumpulkan, batu-batunya (atau bata) disusun, lalu dibuat berbagai macam hiasan yang membuat candi jadi kelihatan lebih oke.

Tapi ada teknik penyusunan batu maupun bata yang khas dari candi. Untuk candi berbahan bata tekniknya lebih sederhana. Bata digosokkan satu sama lain sampai tercipta bubuk yang dapat berperan seperti semen lalu diperciki dengan air.

Dijamin kuat, bahkan mungkin jauh lebih kuat dari semen modern. Buktinya setelah ratusan tahunpun bangunan-bangunan ini masih bertahan. Tapi candi yang menggunakan batu lebih rumit karena batu-batu tersebut disambung-sambung satu sama lain. Ada banyak teknik sambungan batu yang kita kenal, salah satunya teknik sambungan batu langsung.

Caranya? Di salah satu permukaan sebuah batu dibuat sebuah tonjolan, dan di batu lain di buat semacam ‘lembah’ yang cocok dengan batu satunya lagi. Jadi mirip seperti puzzle yang dicocok-cocokkan satu sama lain. Ada juga sambungan batu pengunci. Dengan teknik ini, batu-batu dikaitkan lewat bantuan batu pengunci di tengah-tengah kedua batu itu.

Rumit memang. Makanya harus pikir-pikir lagi jika ingin mencorat-coret candi dengan berbagai macam aksi vandalisme dan perusakan. Semenit bagi kita untuk merusak, namun butuh seratus tahun bagi para nenek moyang untuk membangun. Ironis! (Khairun Nisa/berbagai sumber)

Kitab dan Yoga Di Balik Pembuatan Arca

Februari 19, 2009

Selama ini arca hanya dianggap sebagai karya seni, walau ada juga umat beragama tertentu yang menjadikan arca sebagai media ibadah. Namun bagi para peneliti, sekedar mengetahui nilai seni arca tidak cukup. Apalagi sekedar mengetahui nilai jual ke kolektor. Ada hal menarik lain yang harus diketahui peneliti arca: cara pembuatan.

Pembuatan arca tak hanya melibatkan batu, pahat atau benda lain, tapi tergantung juga dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Kita menyebutnya yoga, sebuah upaya untuk selekas mungkin bertemu dengan dewa.

Kitab Upanisad menggambarkan bagaimana proses menghadirkan dewata dalam diri seniman. Seorang seniman, atau lebih tepatnya disebut silpin (seniman keagamaan), harus menyingkirkan segala pengaruh dari dunia luar yang mengganggu. Gangguan itu mengambil wujud dalam banyak bentuk, misalnya emosi, keinginan pribadi, dan pemikiran pribadi. Setelah itu ditiadakan, silpin memvisualisasikan wujud dewata dalam patokan tertentu. Caranya dengan meditasi dan mantra.

Aktivitas penting dalam yoga adalah menghadirkan dewa dalam dirinya sendiri. Konsep itu dikenal dengan akar sati, yaitu menarik konsep dewata dari alam ide ke alam nyata. Alam nyata tersebut berada dalam diri silpin, tepatnya dalam mental silpin. Alam ide sama dengan alam kedewaan yang sifatnya abstrak. Di alam itulah para dewa bersemayam dan melakukan bebagai kegiatan. Mereka setiap saat dapat dihubungi manusia.

Setelah alam kedewataan didekatkan, maka masuklah gambaran dewa tertentu atau hakikat dewa tertentu dalam diri seniman. Sang dewa kemudian bersemayam di suatu tempat dalam diri seniman yang dinamakan antar-hrdaya-akasa (ruang kosong dalam hati dengan kebersihan sempurna serta bebas dari segala gangguan). Mereka yang menjaga dewa dalam hatinya bisa bertindak seperti dewa, misalnya terbang atau berjalan di atas air.

Di dalam ruang kosong inilah terjadi pertemuan yang mesra dan menimbulkan kenikmatan antara dewa dan manusia. Pada saat itu tercapai klimaks, jnana sattva rupa, yaitu wujud dari kebenaran dan pengetahuan sejati tentang kedewaan. Hasilnya, para silpin tak akan keliru dalam berkarya sebab hakekat dewa telah ada dalam dirinya. Dewa yang dipahaminya tampak bagai bayangan yang muncul secara ajeg di dalam benak atau seperti melihat sosok dalam mimpi.

Bila proses itu terjadi maka si seniman yang juga seorang yogin telah mampu menghayati dan mengidentifikasi subjek dewa, sifat dewa, penggambaran dewa, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dewa secara total. Identifikasi itu harus terus dipertahankan selama diperlukan ketika ia membuat arca.

Selain yoga, hal penting lainnya dalam pembuatan arca adalah ukuran. Aturan ukuran arca terdapat dalam kitab Agama. Salah satu satuan ukur dikenal dengan tala. Peran tala kurang lebih sama dengan peran sentimeter dan meter dalam kehidupan modern. Secara harfiah, tala berarti telapak tangan. Maksudnya adalah ukuran antara ujung jari tengah hingga akhir dari telapak tangan dekat pergelangan. Setiap silpin yang membuat arca harus menggunakan tangannya sendiri dalam mengukur arca. Maka kegunaan tangan bagi mereka tak hanya sebatas dalam memegang pahat. Ukuran tala ini dianggap sama dengan panjang muka mulai dari batas rambut (dahi) sampai ujung dagu. Tak percaya? Coba rentangkan telapak tangan di wajah masing-masing, pasti panjangnya sama.

Kitab Vaikhanasagama juga menyebut angula, selain tala. Angula merupakan ukuran lebar ruas atas ibu jari.Besarnya kira-kira 0,75 inchi atau sekitar seperdelapan cm. Di luar angula dan tala, ada satuan ukur lain yang lebih kecil, yaitu yava. 1 tala sama dengan 12 angula, satu angula sama dengan 8 yava.

Arca masing-masing tokoh kedewaan memiliki ukuran yang berbeda. Kitab Matsyapurana menyebutkan ukuran dasatala yang sama dengan 120 angula. Ukuran ini hanya diperbolehkan bagi arca Narayana, Rama, Narasimha, Bali, Indra, Parasurama, dan Arjuna. Ukuran Navatala yang terdiri dari 108 angula diperuntukkan bagi Raksasa, Asura, Yaksa, Apsara, dan Marudagana.

Astatala yang sama dengan 96 angula diperuntukkan bagi arca laki-laki. Saptatala yang sama dengan 72 angula diperuntukkan bagi Vetala. Pancatala yang berjumlah 60 angula diperuntukkan bagi Ganesha. Catustala yang sama dengan 48 angula diperuntukkan bagi arca Vamana (orang kerdil). Tritala yang sama dengan 36 angula dipergunakan bagi arca-arca Bhuta dan Kinnara. Dvitala atau 24 angula diperuntukkan bagi arca Kusmandha. Dan terakhir (akhirnya…!) ukuran Ekatala atau 12 angula yang diperuntukkan bagi arca Kabanda. Ppfffuuuhhh… cukup berat memang mencerna semua ukuran itu.

Namun mengetahui teknik para silpin dalam membuat arca adalah hal paling berat. Hal terbaik yang kita bisa hanyalah mengamati hasil akhir karya mereka di berbagai museum atau situs. Tahapan pengarcaan hanya dapat diduga melalui analogi dengan teknik pembuatan arca di masa sekarang yang masih dikerjakan secara tradisional. Khusunya arca batu, tanah liat, dan logam sebab bisa dipastikan jarang sekali menemukan penggarap arca modern yang membuat arcanya dari bahan-bahan aneh semisal permata dan mentega. Tertarik melakukan analogi etnografi? (Nisa)

Berapa Kali Borobudur Dibangun?

November 14, 2008

wajahindonesia.com

Siapa yang tidak mengenal Borobudur? Memang tidak mengenal Borobudur bukan sebuah kejahatan. Namun cukup untuk membuat seseorang dianggap sebagai manusia tak berwawasan luas. Sebab candi megah ini sangat terkenal, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia.

Walau demikian terkenal, tak banyak yang tahu kalau Borobudur dibangun dalam beberapa periode. Menurut Jacques Dumarcay, seorang arsitek asal Prancis, candi itu dibangun sebanyak lima kali dalam periode yang berbeda.

Pada perode pembangunan yang pertama, pondasi awal Borobudur terbentuk dari dinding kecil yang terdiri dari deretan batu yang merupakan garis batas. Dinding pondasi dilapisi puing-puing batu sisa. Batu yang digunakan di seluruh bagian candi adalah batu andesit. Setelah dinding pondasi sudah diselesaikan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah mengerjakan bagian kaki. Bagian ini merupakan bagian yang terpisah dari pondasi. Kedua garis pondasi memiliki perbedaan satu sama lain. Proyeksinya adalah 16 cm di sebelah timur laut dan 8 cm di sebelah barat daya.

Sisi-sisi candi dibuat menghadap ke arah timur. Penopang candi diletakkan di bagian atas tingkat pertama lapisan puing-puing batu. Sementara kaki-kaki tiang pancang ditanamkan ke dalamnya. Ketika jalan mulai dibuka, penopang tetap diletakkan dalam bangunan sampai pembangunan mencapai galeri pertama. Setelah itu, penopang diambil dan bekas tempatnya diisi oleh balok-balok batu. Setelah meletakkan deretan batu pertama pada tembok untuk galeri kedua, bagian barat dikurangi karena penyusunan batunya tidak rapi.

Pada galeri ketiga dibangun struktur. Mungkin proporsi dan kerangka tembok hias dan relief telah dibangun seluruhnya sebelum kemudian dirusak. Keberadaan struktur ini diketahui dari dua fakta. Berdasarkan hasil riset geologi, ada wilayah yang sempit dan tersusun rapat di galeri ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa bagian tersebut pernah digunakan. Fakta kedua, adalah dibawah tangga utara yang menuju kaki bangunan dan berasal dari periode pembangunan yang kedua, sejumlah besar elemen pahatan, termasuk tembok hias dan puncak tertinggi, telah ditemukan.

Pada akhir periode pembangunan awal, bangunan sudah lengkap. Termasuk bagian kaki candi yang sekarang tersembunyi, dua galeri pertama, dan sebuah struktur utama. Lalu pengerjaan bangunan ditinggal selama lebih kurang 25 tahun.

Pada periode pembangunan kedua lapisan puing-puing batu terlepas. Sementara parit besar yang muncul di sisi bukit menyebabkan struktur bagian utara rusak. Periode pembangunan kedua adalah pembaharuan lengkap bangunan, untuk menjaganya tetap sebagai satu kesatuan. Akan tetapi rencana baru yang d

media-2.web.britannica.com

media-2.web.britannica.com

ibuat untuk galeri tiga dan empat menunjukkan perbedaan dari periode pertama. Tangga yang sudah direkonstruksi pada periode pertama, sekarang menjadi kurang tinggi. Karena itu perlu sekali untuk membuat kembali desain baru, dan membangun kembali lengkungan di pintu masuk.

Untuk memberi kesan kesatuan bagi bangunan, tiang pintu masuk yang baru, diletakkan di dekat relief lama yang sama dengan galeri tiga dan empat. Bagian atas bangunan mulai dikerjakan lagi. Sisi-sisi bukit tempat candi mendompleng, mulai berubah. Termasuk lima tingkat dari tanah yang dimampatkan dan melapisi puing-puing. Struktur bundar dibangun di bagian atas mimbar, lalu pekerjaan sekali lagi dihentikan.

Sebelum pembangunan periode ketiga dimulai, semuanya diratakan. Pada periode ini dibangun tiga beranda bundar yang menembus stupa-stupa dan stupa sentral. Pagar langkan galeri pertama dimodifikasi dengan cara membangun relung dibagian atasnya untuk menambah sejumlah arca Buddha. Bagian kaki diperluas, dan disisipkan saluran-saluran air hujan.

Pada dua periode terakhir, yaitu periode keempat dan kelima, hanya terjadi perkembangan kecil. Ruang antara relung terbuka di pagar langkan galeri pertama ditutup. Selain itu, pada bagian dalam galeri pertama dipahatkan relief yang baru. Relief-relief ini dihubungkan dengan jalan menuju pintu masuk dan akses baru menuju tangga.

Pada periode ini, tanah yang padat mengakibatkan sisi bukit terkikis dan puing-puing menimpa ke sisi barat. Tanah disekitar bangunan menutupi seluruh tingkat pertama bagian kaki. Tangga di sisi bukit menghilang, galeri-galeri akan terisi tanah dan tanaman liar. Lalu pembangunan terhenti, hingga muncullah candi megah sebagaimana yang kita kenal sekarang. (nisa)

Masjid Azizi: Berlian di Tanjungpura

Oktober 20, 2008
Kubah

Kubah

Jatuh cinta itu sudah dirasakan sejak pandangan pertama. Begitulah yang penulis rasakan ketika pertama kali melihat mesjid ini beberapa tahun lalu. Sayang kesempatan untuk mengunjunginya lagi baru terlaksanakan September lalu.

Namanya Masjid Azizi, terletak di Tanjungpura, sebuah kota kecamatan kecil yang belum melupakan kemelayuannya. Masih banyak rumah tradisional berbahan kayu dengan tangga yang berdiri dengan eloknya di kota ini. Walau tentu saja modernitas adalah sesuatu yang tak dapat di tolak. Rumah-rumah berarsitektur Melayu ini pun mesti bersaing dengan rumah modern yang angkuh.

Syahdan, Azizi dan Tanjungpura merupakan milik Kesultanan Langkat. Mesjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927) dan diresmikan pada 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau tepatnya 13 Juni 1902. Kini nama kerajaan pendirinya diabadikan dalam nama sebuah kabupaten, Kabupaten Langkat.

Tak banyak memang yang tahu kerajaan ini. Pamornya kalah oleh Kerajaan Deli dengan Istana Maimoon-nya yang memang berlokasi di Kota Medan. Padahal Kesultanan Langkat cukup makmur dengan perkebunan karet dan cadangan minyak di Pangkalan Brandan. Kesultanan ini runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga kesultanan Langkat yang terbunuh. Namun kejayaan mereka tak hilang ditelan waktu. Mesjid Azizi masih menyimpan kenangan akan kerajaan ini.

Kenangan tersebut terlihat pada pemakaman istimewa yang berada dalam bangunan berpagar dan terbuat dari bahan seperti marmer putih. Itulah makam keluarga kesultanan. Di sampingnya terdapat pemakaman dengan nisan bermacam ragam dan berjumlah ratusan. Diantaranya tampak kuburan Amir Hamzah, penyair Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, dengan salah satu karya terkenalnya: Nyanyi Sunyi.

Arsitektur Mesjid Azizi merupakan perpaduan corak Timur Tengah dan India. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat bagian atap. Ciri khas Timur Tengah dan India tersebut dikombinasikan dengan corak Melayu, Persia dan China.

Paduan Corak Cina dan Timur Tengah

Keanekaragaman itu tercermin dari ornamen-ornamen mozaik dan pualam bernuansa Timur Tengah. Sementara pengaruh Cina bisa dilihat dari menara yang menjulang di pelataran mesjid. Hal serupa juga ditemukan pada bagian pintu dengan ukir-ukiran khas Cina mirip yang terdapat di kelenteng. Bangunan utama Masjid Azizi merupakan perpaduan arsitektur bercorak Timur Tengah dan India yang megah dengan banyaknya kubah. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat pada atapnya.

Azizi adalah mesjid yang kaya. Bukan karena biaya pembangunannya mencapai angka 200.000 ringgit. Kekayaannya tampak dari arsitektur dengan banyak ciri dan tradisi. Kekayaan ciri itulah yang menjadikan Azizi indah dipandang. Mesjid ini bahkan lebih indah dari istana sang sultan sendiri. Tak salah jika Azizi dianggap Berlian dari Tanjungpura. (nisa)