Berapa Kali Borobudur Dibangun?

November 14, 2008

wajahindonesia.com

Siapa yang tidak mengenal Borobudur? Memang tidak mengenal Borobudur bukan sebuah kejahatan. Namun cukup untuk membuat seseorang dianggap sebagai manusia tak berwawasan luas. Sebab candi megah ini sangat terkenal, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia.

Walau demikian terkenal, tak banyak yang tahu kalau Borobudur dibangun dalam beberapa periode. Menurut Jacques Dumarcay, seorang arsitek asal Prancis, candi itu dibangun sebanyak lima kali dalam periode yang berbeda.

Pada perode pembangunan yang pertama, pondasi awal Borobudur terbentuk dari dinding kecil yang terdiri dari deretan batu yang merupakan garis batas. Dinding pondasi dilapisi puing-puing batu sisa. Batu yang digunakan di seluruh bagian candi adalah batu andesit. Setelah dinding pondasi sudah diselesaikan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah mengerjakan bagian kaki. Bagian ini merupakan bagian yang terpisah dari pondasi. Kedua garis pondasi memiliki perbedaan satu sama lain. Proyeksinya adalah 16 cm di sebelah timur laut dan 8 cm di sebelah barat daya.

Sisi-sisi candi dibuat menghadap ke arah timur. Penopang candi diletakkan di bagian atas tingkat pertama lapisan puing-puing batu. Sementara kaki-kaki tiang pancang ditanamkan ke dalamnya. Ketika jalan mulai dibuka, penopang tetap diletakkan dalam bangunan sampai pembangunan mencapai galeri pertama. Setelah itu, penopang diambil dan bekas tempatnya diisi oleh balok-balok batu. Setelah meletakkan deretan batu pertama pada tembok untuk galeri kedua, bagian barat dikurangi karena penyusunan batunya tidak rapi.

Pada galeri ketiga dibangun struktur. Mungkin proporsi dan kerangka tembok hias dan relief telah dibangun seluruhnya sebelum kemudian dirusak. Keberadaan struktur ini diketahui dari dua fakta. Berdasarkan hasil riset geologi, ada wilayah yang sempit dan tersusun rapat di galeri ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa bagian tersebut pernah digunakan. Fakta kedua, adalah dibawah tangga utara yang menuju kaki bangunan dan berasal dari periode pembangunan yang kedua, sejumlah besar elemen pahatan, termasuk tembok hias dan puncak tertinggi, telah ditemukan.

Pada akhir periode pembangunan awal, bangunan sudah lengkap. Termasuk bagian kaki candi yang sekarang tersembunyi, dua galeri pertama, dan sebuah struktur utama. Lalu pengerjaan bangunan ditinggal selama lebih kurang 25 tahun.

Pada periode pembangunan kedua lapisan puing-puing batu terlepas. Sementara parit besar yang muncul di sisi bukit menyebabkan struktur bagian utara rusak. Periode pembangunan kedua adalah pembaharuan lengkap bangunan, untuk menjaganya tetap sebagai satu kesatuan. Akan tetapi rencana baru yang d

media-2.web.britannica.com

media-2.web.britannica.com

ibuat untuk galeri tiga dan empat menunjukkan perbedaan dari periode pertama. Tangga yang sudah direkonstruksi pada periode pertama, sekarang menjadi kurang tinggi. Karena itu perlu sekali untuk membuat kembali desain baru, dan membangun kembali lengkungan di pintu masuk.

Untuk memberi kesan kesatuan bagi bangunan, tiang pintu masuk yang baru, diletakkan di dekat relief lama yang sama dengan galeri tiga dan empat. Bagian atas bangunan mulai dikerjakan lagi. Sisi-sisi bukit tempat candi mendompleng, mulai berubah. Termasuk lima tingkat dari tanah yang dimampatkan dan melapisi puing-puing. Struktur bundar dibangun di bagian atas mimbar, lalu pekerjaan sekali lagi dihentikan.

Sebelum pembangunan periode ketiga dimulai, semuanya diratakan. Pada periode ini dibangun tiga beranda bundar yang menembus stupa-stupa dan stupa sentral. Pagar langkan galeri pertama dimodifikasi dengan cara membangun relung dibagian atasnya untuk menambah sejumlah arca Buddha. Bagian kaki diperluas, dan disisipkan saluran-saluran air hujan.

Pada dua periode terakhir, yaitu periode keempat dan kelima, hanya terjadi perkembangan kecil. Ruang antara relung terbuka di pagar langkan galeri pertama ditutup. Selain itu, pada bagian dalam galeri pertama dipahatkan relief yang baru. Relief-relief ini dihubungkan dengan jalan menuju pintu masuk dan akses baru menuju tangga.

Pada periode ini, tanah yang padat mengakibatkan sisi bukit terkikis dan puing-puing menimpa ke sisi barat. Tanah disekitar bangunan menutupi seluruh tingkat pertama bagian kaki. Tangga di sisi bukit menghilang, galeri-galeri akan terisi tanah dan tanaman liar. Lalu pembangunan terhenti, hingga muncullah candi megah sebagaimana yang kita kenal sekarang. (nisa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: