Laksamana Cheng Ho

Februari 8, 2008

Cheng Ho merupakan sebuah sosok yang memiliki banyak sekali nama. Beberapa ada yang menyebutnya Zheng He, Sam Po Kong, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan sebuah nama lagi disebutkan dalam sebuah berita Ming Shi (Sejarah dinasti Ming), bahwa “Zheng He berasal dari Propinsi Yunnan, dikenal sebagai Kasim San Bao”. Tokoh ini kurang diperhatikan pada masa feodal Cina di masa lalu karena dia adalah seorang kasim, dan kasim tidak dihargai di Cina pada masa itu.

Cheng Ho berasal dari suku Hui yang anggota sukunya banyak yang memeluk Islam, termasuk ayah dan kakeknya. Beberapa ahli ada yang menyatakan keluarga ini sebagai keturunan Nabi Muhammad, tetapi tak sedikit pula yang menentang. Cheng Ho hidup sejak 1371-1433 M, dan selama masa hidupnya dia sudah memimpin armada pelayaran selama 28 tahun dengan 7 kali pelayaran berturut-turut untuk mengunjungi banyak negara, baik di Asia maupun Afrika.

Dalam tujuh pelayarannya tersebut, dia mampir ke Sumatera sebanyak 7 kali dan ke Jawa sebanyak 6 kali karena dia tidak singgah ke pulau ini pada pelayarannya yang ke-enam. Akan tetapi di Jawa ada sebuah bangunan yang dibuat untuk mengenang Cheng Ho, yaitu Klenteng Sam Po Kong di Semarang.

Menurut cerita, pada pertengahan abad 15 Cheng Ho berlabuh di Simongan, Semarang, karena pembantunya, Wang Jing-hong, sakit. Untuk menjaga kesehatannya Cheng Ho memerintahkan Wang beserta 10 awak kapal menetap sementara di Semarang, sementara ia dan awak lain meneruskan perjalanan. Dengan segera Wang menjadi betah dan memutuskan menetap.

Keputusannya ini membawa banyak perubahan bagi daerah tersebut. Karena kemudian, ia dan 10 awak lain bercocok tanam, membuat rumah, menikah dengan wanita setempat, dan berdagang dengan menggunakan satu kapal yang ditinggalkan Cheng Ho, serta menyebarkan agama Islam. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi ramai dan berkembang pesat. Untuk mengenang jasa Cheng Ho ia membuatkan sebuah patung yang kemudian dipuja oleh masyarakat setempat setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek. Selanjutnya dibangun juga sebuah klenteng di tempat tersebut yang dikenal dengan nama Klenteng Sam Po Kong.

Setelah Cheng Ho meninggal, banyak orang yang berselisih paham mengenai letak makamnya. Sebagian mengatakan berada di Semarang, sebagian lain yakin makam tersebut ada di Gun Ming, Yunan. Sementara keturunannya sendiri berpendapat makam moyang mereka tersebut terletak di Nanjing.

Akan tetapi, kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa Cheng Ho cukup berjasa bagi dunia. Karena selain menyebarkan Islam, dia juga memperbanyak pengetahuan mengenai laut Pasifik dan Hindia, membuat 24 peta navigasi, menghalau bajak laut yang dapat menghambat perdagangan, dan membuka jalan untuk pertukaran kebudayaan. (nisa)

(Dikutip dari Sam Po Kong dan Indonesia karya Kong Yuan Zhi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: