Pulanglah Dia Si Arca Hilang

November 6, 2007

Beberapa orang mungkin menganggap topik ini usang, tapi sengaja kami angkat kembali demi membuktikan tak semua manusia yang hidup di Indonesia memiliki sifat latah yang sudah membudaya. Untuk mengetahui seberapa latahnya bangsa ini, mungkin kita bisa memundurkan ingatan beberapa tahun ke belakang, saat maraknya berita soal penemuan ‘hobbit’ yang dengan bangganya diumumkan Australia kepada dunia internasional. Seketika Indonesia kebakaran jenggot, lalu berubah marah dan gusar, sebab penemuan penting di tanah air malah diumumkan seenaknya oleh Mike Morwood dan Peter Brown dalam sebuah konferensi pers di Sydney, Australia, tanpa kehadiran peneliti Indonesia.

Malang benar nasib Indonesia. Punya lahan yang kaya artefak dan situs penting, punya peneliti sendiri yang mampu meneliti artefak-artefak tersebut, namun tak punya dana hingga terpaksa bekerja sama dengan negara lain, penyokong yang kemudian mengambil alih penelitian tersebut. Tapi hanya segitu saja, setelah media dan beberapa kelompok masyarakat puas merasa panik dan marah akan kasus tersebut, maka semuanya terlupakan.

Kasus dengan negara tetangga juga tak jauh berbeda. Ketika Malaysia sang ‘saudara serumpun’ menggunakan lagu Rasa Sayange untuk website kebudayaan mereka, serentak seluruh rakyat Indonesia marah, terutama karena setelah Rasa Sayange, ada pencurian beruntun lainnya. Internet dijadikan media ketika banyak orang menumpahkan kemarahan mereka di beberapa forum bebas maupun blog, bahkan hacker asal Indonesia sempat membajak situs tersebut. Tapi setelah itu apa?

Kembali pada kasus pencurian benda-benda purbakala di Museum Radya Pustaka yang berhasil terkuak, lingkaran setan yang sama juga kembali terulang. Pembahasan ramai dimana-mana, mengenai Hasjim, Krueger, lemahnya mental dan pengawasan para pegawai museum, sampai ketakcakapan pemerintah. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka berita mengenai Hasjim, atau Museum Radya Pustaka-pun makin jarang ditemui.

Dimulai dari terkuaknya keberadaan arca-arca palsu di Museum Radya Pustaka tahun 2007 kemarin. Untunglah dua petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berhasil mengendus ketidakberesan pada arca yang tersimpan di ruang belakang Radya Pustaka, September lalu. Kecurigaan itu muncul sebab arca Agastya di museum tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan wujud di dalam foto dokumen BP3 yang diambil pada 2001. Ternyata tak hanya satu arca yang palsu, Agastya memiliki empat ‘teman’ lain yang juga bernasib sama, yaitu Durga Mahisasura Mardini, Durga Mahisasura Mardini II, Siwa, dan Mahakala.

Terkuaknya kasus lima arca tersebut mendorong penyelidikan lebih lanjut, hingga BP3 Jawa Tengah mengumumkan ada enam benda koleksi lain yang telah hilang dan dipalsukan, yaitu dua arca perunggu, sebuah kap lampu perunggu, dua buah keramik yang salah satunya berasal dari Dinasti Ming, dan sebuah tempat buah-buahan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubowono X.

Jumlah tersebut memang bukanlah kerugian yang sedikit, namun tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum tersebut, terpikirkan oleh kami, benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik jika berada di tangan museum dan pemerintah? Kalau beberapa museum yang sudah kami kunjungi seperti Museum Nasional dan Fatahillah, bisa dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi benda-benda bersejarah tersebut. Pasti sudah banyak yang tahu betapa arca-arca di museum dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak dirawat sama sekali. Alasannya? Klise: kurang dana dan kurang orang.

Jika demikian, mungkin saja akan lebih baik arca-arca tersebut dicuri dan dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat mereka dengan lebih baik. Pencurian benda bersejarah yang dilindungi hukum memang salah, namun menelantarkan benda tersebut adalah tindakan yang sama salahnya.

Mungkin suatu ketika, saat museum kita sudah mampu memperlakukan museum kita benda-benda koleksi mereka dengan lebih ‘manusiawi’, maka mungkin itulah saat paling pantas bagi orang Indonesia untuk mengutuk pencurian dan pejualan ilegal benda-benda cagar budaya milik negara. (Paduraksa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: