Sejarah di Balik Nama

September 6, 2007

Shakspeare, seorang sastrawan Inggris, pernah mengatakan: “What’s in a name?” Tentu jawabnya bisa bermacam-macam. Walau bunga Mawar tetaplah wangi walau tidak tidak bernama Mawar. Jauh sebelumnya di jazirah Arabia, seorang Muhammad pernah mengatakan bahwa nama adalah doa, ada pengharapan ketika orang tua menamakan bayinya.

Tapi kita tidak bicara tentang nama yang melekat pada manusia. Lebih menarik apabila mengetahui latar belakang nama suatu wilayah. Ada proses panjang yang terjadi di sana: Baik itu proses sejarah, maupun latar belakang budaya yang melatarbelakangi pembentukan nama. Suatu proses yang tidak jarang membuat kening manusia berkernyit: Heran, takjub, atau bahkan merinding. Hingga tidak jarang sebuah nama terjadi bukan karena sebuah pengharapan, tapi lebih ke takdir. (It’s a little bit debatable, isn’t it?)

Seperti misalnya nama Kampung Pecah Kulit, di Jakarta Utara. Dinamakan “Pecah Kulit” karena adanya eksekusi oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap seorang londo yang bernama Pieter Erbeveld. Kesalahan Pieter adalah mendukung perjuangan inlander melawan VOC (Untuk jelasnya baca Adolf Heuken, Historical Sites of Jakarta). Eksekusi berjalan parah. Kedua kaki dan kedua tangan Pieter diikat di kuda, kemudian kuda-kuda tersebut berlari kencang ke empat penjuru mata angin. Maka pecahlah badan, juga kulit, Pieter. Tak hanya itu, kepalanya juga digantung untuk dijadikan monumen peringatan bagi para inlander. Sejak itu, wilayah itu dinamakan Kampung Pecah Kulit. Nama yang diambil dari pecahnya kulit Pieter Erbeveld. Oh… Seraaamm…

Ada lagi, nih. Selama ini, orang mengetahui nama Betawi berasal dari lidah penduduk pribumi yang kesulitan menyebut Batavia. Tapi ada sejarah nama lain dari Betawi, walau tidak familiar dan marjinal. Konon, tentara Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang mengepung Batavia saat itu kehabisan amunisi. Tak hilang akal, Sultan Agung kemudian meminta prajurit-prajuritnya mengumpulkan kotoran, alias tahi, untuk dijadikan amunisi. Setelah terkumpul banyak, tahi-tahi itu lalu dilemparkan ke dalam kota Batavia. Tentu saja “semerbak harumnya” tahi tersebut menyebar ke penjuru kota. Hingga orang-orang berteriak, “Mambu tai, Mambu tai,” yang kemudian terdengar seperti Betawi.

Yah, setidaknya itulah yang diceritakan almarhum Ajatrohaedi, seorang ahli sejarah nama, yang juga guru kami tercinta. Sejarah nama itu sendiri dikenal di dunia akademisi dengan nama ilmu Toponimi. Suatu bidang ilmu yang oleh Mang Ajat dinamakan ke bahasa Indonesia: Widyaloka. Sayang, ilmu ini belum begitu berkembang di sejarah-budaya Indonesia.

Oh iya, sekedar info. Tahukah Anda kalau ternyata nama Margonda Raya, yang terbentang sedemikian panjangnya di Depok, diambil dari nama pahlawan legendaris Depok: Margonda. (Bayu Galih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: