Sejumlah Tanya tentang Keajaiban Dunia

Agustus 12, 2007

Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan keajaiban dunia. Apakah keajaiban dunia merupakan hasil kreasi alam, yang saking indahnya membuat manusia melihatnya sebagai keajaiban? Ataukah hasil ‘sentuhan’ manusia dari mahakarya sebuah peradaban?

Tanpa bermaksud menafikan kebesaran alam dan pencipta-Nya, lebih menarik apabila kita melihat keajaiban dunia sebagai hasil peradaban. Terutama lagi setelah organisasi bernama The New Open World Corporation menyatakan tujuh keajaiban dunia baru (The New Seven Wonders of the World), yang mencakup Chichen Itza di Meksiko, Patung Kristus Penebus di Brazil, Tembok Besar Cina, Machu Pichu di Peru, reruntuhan kota Petra di Yordania, Colloseum di Italia, Taj Mahal di India, dan Piramida Giza di Mesir. Menarik, karena ternyata tujuh keajaiban dunia baru yang dicetuskan 7 Juli 2007 ini menuai banyak kontroversi.

Adalah UNESCO yang menjadikan The New Seven Wonders of the World menjadi sebuah kontroversi. Sebagai sebuah lembaga resmi PBB yang juga bertanggung jawab akan pelestarian Benda Cagar Budaya Dunia (world heritage), UNESCO menolak dikaitkan dengan kampanye tujuh keajaiban dunia baru tersebut. Sebuah sikap yang kami anggap tepat, karena sebagai sebuah lembaga yang bertanggung jawab terhadap world heritage, UNESCO tidak dapat memprioritaskan tugasnya hanya kepada tujuh wonders baru, serta melupakan world heritage lain. Tentu saja termasuk yang ada di Indonesia, seperti Borobudur, Prambanan, dan Sangiran.

Kontroversi lain adalah kriteria new wonders yang tidak jelas. Akan terasa aneh untuk membandingkan Patung Kristus Penebus di Brazil, yang baru berusia 78 tahun dan dibuat dengan teknologi modern, dengan Tembok Besar Cina, yang didirikan antara 220 – 200 SM dan menjadi bangunan terpanjang dalam sejarah manusia walau dengan teknologi yang sederhana. Baik itu batas waktu atau teknologi yang digunakan sebagai kriteria, masih rancu untuk menyebut sesuatu sebagai wonder.

Mari kita kembali lebih jauh ke belakang, menengok sejarah awal munculnya tujuh keajaiban dunia. Mengapa harus tujuh? Sebab sang pencetus awal, Antipater of Sidon, membuat tujuh daftar dalam sebuah puisi sekitar abad 140 SM. “Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus (di Olympus), dan taman-taman gantung (di Babylonia), dan Colossus (di Rhodes), dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi (Piramida Giza), serta kuburan yang besar dari Maussollos; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, ‘Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.” (Antipater, Greek Anthology IX.58).

Jadi dari sanalah tujuh keajaiban dunia berasal. Semata-mata berasal dari pendapat pribadi seorang Antipater, yang kemudian dikembangkan lebih jauh. Sekarang masyarakat mengenal banyak jenis tujuh keajaiban dunia. Pertama sebagaimana tertera dalam daftar Antipater of Sidon. Satu-satunya keajaiban dunia kuno yang masih ada hingga sekarang adalah Piramid Giza. Colossus of Rhodes adalah keajaiban dunia kuno yang berumur paling pendek, hanya bertahan selama 56 tahun sebelum hancur oleh gempa bumi, sementara keberadaan Taman Gantung Babilonia, masih diperdebatkan keberadaannya.

Setelah peradaban kuno runtuh, ingatan akan keajaiban dunia kuno yang hancur perlahan menghilang. Kelompok cendekiawan meninjau ulang dan menulis kembali daftar keajaiban dunia yang dikenal sebagai tujuh keajaiban dunia pertengahan yaitu Katakombe Kom el Shoqafa, Colosseum, Tembok besar China, Hagia Sophia, Menara miring Pisa, Menara porselen Nanjing (Nanjing, Tiongkok), dan Stonehenge (Skotlandia, Britania Raya). Setelah keajaiban pertengahan, banyak orang sudah menyusun daftar Keajaiban Dunia Modern, antara lain Terowongan Channel (Britania Raya dan Perancis), Menara CN (Toronto, Kanada), Empire State Building (New York, Amerika Serikat), Jembatan Golden Gate (San Francisco, AS), Dam Itaipu (Brazil dan Paraguay), Delta Works (Belanda), dan Terusan Panama (Panama).

Tentu saja Indonesia juga memiliki wonders, misalnya Borobudur sebagai salah satu mahakarya arsitektur pada masanya. Namun sayangnya, orang sering menyebut Borobudur sebagai forgotten wonders. Keajaiban yang terlupakan, seperti halnya Angkor Wat di Kamboja.

Akan sangat bijak apabila kita tidak membatasi wonders of the world menjadi hanya tujuh. Karena ketika kita bicara wonders, tentu saja kita juga bicara kemajuan peradaban, hingga melahirkan mahakarya, baik kemegahan arsitektural ataupun keindahan estetis. Setiap peradaban, juga setiap zaman, tentu akan menghasilkan wonders-nya masing-masing. Dengan membatasinya dalam sejumlah angka prioritas hanya akan melupakan yang lain, dan ini menjadi ancaman bagi pelestariannya. (komunitas paduraksa, Juli 2007; dari berbagai sumber)

Satu Tanggapan to “Sejumlah Tanya tentang Keajaiban Dunia”

  1. jemiro Says:

    setuju, sebenarnya yang membuat rule “7” itu kan manusia, seandainya kita mau menarik kata “the Most” saya rasa jika dibanding dengan semua keajaiban (bahkan mungkin ang belum kita tau) tidak akan bisa diambil yang “paling”,, saya setuju dengan anda! nice


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: