Danau Toba: Akibat Erupsi Terbesar?

Januari 6, 2011

Danau Toba (medantalk.com)

Selama ini Danau Toba dikenal sebagai sebuah kawasan wisata yang indah di Sumatera Utara. Namun, tidak banyak yang tahu kalau Danau Toba merupakan danau volkanik terbesar di dunia. Danau yang diduga terjadi akibat erupsi pada 69.000 – 77.000 tahun yang lalu.

Danau Toba yang kita kenal sekarang  tadinya adalah sebuah gunung yang termasuk dalam kategori super volcano. Untuk meraih ‘gelar’ ini, sebuah gunung haruslah mampu menghasilkan erupsi dengan ejecta (partikel yang keluar dari lubang vulkanis) lebih besar dari 1000 kilometer kubik.

Sejumlah ahli mengkategorikan enam gunung termasuk  dalam super volcano. Selain Toba, mereka adalah Yellowstone Caldera, Long Valley Caldera, dan Valles Caldera di AS, Taupo Volcano di Selandia Baru, dan Aira Caldera di Jepang.

Erupsi Gunung Toba adalah yang terbesar dalam dua juta tahun terakhir. Menurut beberapa teori, erupsi ini bahkan hampir menyapu habis nenek moyang manusia.

Tiga erupsi utama terjadi dalam satu juta tahun terakhir. Letusan pertama berlangsung sekitar 840 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Erupsi  kedua dengan kekuatan lebih kecil terjadi sekitar 500 ribu tahun lalu dan membentuk kaldera di utara Danau Toba. Letusan ketigalah yang paling dashyat. Terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera yang kini kita kenal sebagai Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Diperkirakan volume magma yang dihasilkan sekitar 2000-3000 kilometer kubik. Material yang keluar kemungkinan mengalir ke timur lewat Selat Malaka dan ke barat lewat Samudera Hindia. Beberapa ahli kelautan melaporkan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba ditemukan di Malaysia dan India Tengah.

Dampak paling besar dari erupsi ini adalah perubahan iklim global. Abu vulkanik yang dihasilkan mampu mencapai stratosfer.

Tak ada bukti langsung yang bisa menunjukkan hebatnya pendinginan global yang disebabkan letusan Toba. Walau beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa volcanic winter (penurunan temperatur akibat abu vulkanik dan lubang asam yang berperan dalam mengaburkan matahari), yang dikombinasikan dengan efek jatuhnya abu, bisa jadi membawa manusia ke ambang kepunahan.

Stanley Ambrose dari Universitas Illinois meyakini letusan 74.000 tahun yang lalu itu mengguncangkan dunia Paleolitik Tengah dan mengurangi populasi global hingga sekitar 15.000 individu.

Peneliti dari Universitas Cambridge menemukan alat batu di bawah lapisan tebal abu Toba di situs Jwalapuram, India Selatan. Alat-alat yang ditemukan dari masing-masing layer sungguh menunjukkan kemiripan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa letusan besar Toba tidak menyapu habis populasi manusia dari masa pengguna alat tersebut. Melainkan, setelahnya tercipta fase pendingingan global dimana dunia mengalami musim dingin selama enam tahun yang diikuti dengan peristiwa glasial.

Hanya manusia modern sajalah yang sanggup bertahan melewatinya. Namun seberapa besarpun kehancuran yang dibawa peristiwa tersebut. Letusan Gunung Toba kuno membuat kita dapat menyaksikan Tao Toba nauli (Danau Toba yang indah) dengan orang-orang Toba yang mengembangkan kebudayaan unik mereka di wilayah sekitarnya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: